Pembangunan Klinik Asshofaa dipertanyakan warga setempat

Laporan : Shandi 

Cianjur, metropuncaknews.com – Warga Kampung Warungkiara RT3/09 Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur mempertanyakan soal izin lingkungan mengenai pembangunan ‘Klinik Asshofaa’ yang kini sedang digeber. Pasalnya, selama ini, warga menduga pembangunan klinik tersebut masih belum memiliki izin resmi.

Berdasarkan informasi yang diterima dari sejumlah warga menyebutkan, izin lingkungan dari warga setempat ada dugaan dipalsukan oleh beberapa oknum yang berkepentingan. Karena, selama ini belum ada kejelasan terkait rencana pendirian pembangunan klinik tersebut.

“ Warga khawatir akan kena dampak berbagai penyakit dari limbah klinik tersebut,” kata, Yayan Jefry (40) warga setempat juga seorang aktivis.

Sampai saat ini, warga tidak pernah diajak bicara melalui musyawarah mencapai mufakat. Artinya, itu tak ada itikad baik dari pihak manajemen atau yayasan klinik yang saat ini rencana pembangunannya diserahkan ke pihak ketiga.

Masih menurut Jefri, bila persoalannya terus berlarut-larut, seakan tak ada itikad baik pada Bupati Cianjur selaku pemangku kebijakan,  dinas terkait bisa menghentikan dan membatalkan izin rencana akan dibangun klinik tersebut.

” Adapun saat ini, izin yang sudah dikantongi itu ada dugaan dipalsukan,” ujarnya kepada awak media, Sabtu (8/9).

Warga mempertanyakan dan menuding ada dugaan kriminal terkait izin. Karena itu, warga meminta pada Bupati Cianjur untuk membatalkan izin pembangunan,nya. Selain itu juga meminta pada pihak Polres Cianjur, untuk mengusut para oknum tak bertanggungjawab yang memiliki terkait dengan pemalsuan izin klinik tersebut.

Hal lain, Ketua Pemuda Pancasila (PP) Ranting Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur, Agus Iwan alias Bule mempertanyakan, soal beberapa tuntutan dan aspirasi yang dilontarkan warga. Diantaranya, minta kejelasan informasi secara terbuka pihak manajeman soal izin.

Bule menegaskan, hal itu jelas melanggar dan terang-terangan mengabaikan gunting surat keputusan Bupati Cianjur Nomor : 521.51/3295/BPPTPM penghentian sementara (moratorium,red) alih fungsi lahan pertanian (sawah) di Kabupaten Cianjur per tanggal 7 September 2016.

” Intinya, meminta manajemen bisa mengelola limbah dengan baik dan benar jangan asal-asalan. Warga minta diprioritaskan soal pemberdayaan masyarakat setempat (SDM) untuk dipekerjakan dan terakhir warga minta gerakan sosial kemanusian lebih diutamakan,” ungkapnya.

Sementara, Ricky (35) salah satu pemuda setempat menambahkan, prioritaskan soal limbah. Untuk itu mohon konfirmasi sebagaimana Amandemen (18-08) BAB X A-Hak Azasi Manusia Pasal 28 bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosial. Serta berhak untuk memberi, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan mengunakan jenis saluran tersedia sesuai dengan investigasi di lapangan.

” Tentu saja lingkungan sini akan terkena dampak berbagai penyakit untuk beberapa tahun ke depan. Memang sekarang tak terasa dan jangan dianggap sepele, baik itu dampak dari limbah rumah sakit diantaranya aroma bau obat tak sedap, banyak lalat dan nyamuk serta lainnya,” ujar Fendi diperkuat beberapa warga lainnya.

Ditemui terpisah, salah seorang penanggung jawab Klinik Asshofaa, Yosef menjelaskan, tentunya aspirasi yang disampaikan warga setempat akan difasilitasi dan ditampung. Itu menjadi bahan pertimbangan. Tentunya, akan memprioritaskan warga setempat dulu dalam segala hal. Baik itu SDM (pemberdayaan), dan beberapa point lainnya.

” Pembangunan ini kan untuk memfasilitasi warga dan kepentingan warga, saya mohon do’anya saja agar bisa lancar dan sesuai harapan proses pelaksanaan pembangunan dari mulai awal hingga akhir. Mari kita sinergis dan kalau ada keluhan dan permasalahan lainnya langsung bicarakan,” terangnya.

Ia menambahkan, pihak manajeman akan selalu terbuka, dan malahan senang bisa berdiskusi dan silaturahmi dengan warga tak ada istilahnya yang ditutup-tutupi selama ini.

Nah, untuk rencana pembangunan mungkin akan dikerjakan perosesnya per Desember 2018. Itu sebenarnya mau kordinasi mau menggelar pertemuan dengan warga, hanya waktu dan harinya dipenuhi dengan kesibukan dan beberapa pekerjaan lainya.

” Saat ini masih belum aktif atau beroperasi kliniknya, baru pembangunan pemagaran saja dulu. Panjangnya  hanya sekitar 1500 meter, secara keseluruhan totalnya itu 9800 meter akan dibangun,” jelasnya.

Bahkan pihak klinik menyebutkan, sebelumnya sudah koordinasi melalui sosialisasi dengan warga setempat. Tentunya tidak akan pilih kasih semua dirangkul untuk dipekerjakan sesuai kemampuan dan potensi warga setempat ditempatkan cocoknya dimana.

” Mengenai izin lingkungan, itu sudah sebelumnya, baik itu izin UPK/UPL. Soal SDM tentunya akan diprioritaskan, apalagi ini menyangkut warga asli pribumi. Tentu lah akan dipekerjakan,” ucap, Yosef.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here