Ilustrasi

Laporan: shandi/R Dhany 

Cianjur, metropuncaknews.com – Datangnya musim penghujan menambah kekhawatiran warga Kampung Warungkiara dan Cageundang, Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur. Pasalnya kedua kampung tersebut dipisahkan oleh aliran sungai. Sedangkan jembatan penyebrangan, sangat terbatas.

Bahkan, baru-baru ini, Tembok Penahan Tanah (TPT) di lokasi tersebut ambruk saat hujan deras, kemarin. Padahal di sekitar bantaran sungai terdapat permukiman yang cukup padat. Karuan saja, hal tersebut mengundang kekhawatiran warga.

Selain itu, warga juga mengeluhkan minimnya jembatan penyebrangan orang (JPO) antar Kampung. Adapun jembatan yang biasa digunakan adalah jembatan kereta api aktif.

Salah seorang warga setempat yang mengaku bernama Dani (32) mengatakan, jembatan penghubung anat kampung itu sangat penting. Karena tidak ada jembatan, warga  Kampung Warungkiara dan Cageundang melintas menggunakan jembatan ‘rel kereta api aktif’.

” Ya, jelas memancing maut. Pasalnya, hampir puluhan tahun di perbatassan dua Kampung tersebut tidak ada fasilitas pembangunan infrastruktur fisik dan sosial untuk pembangunan jembatan penyembarangan orang (JPO),” kata Ketua Pemuda Pancasila (PP) Ranting Desa Sukamaju, Agus Iwan alias Paule kepada awak media, Rabu (14/11).

Padahal, mengenai masalah pembangunan infrastruktur fisik dan sosial dapat didefinisikan sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistem struktur, yang sangat diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor privat sebagai layanan dan fasilitas umum.

” Nah, artinya diperlukan agar perekonomian dapat berfungsi dengan baik, istilah ini umumnya untuk kepentingan publik. Maka dari itu warga setempat sangat mendambakan pembangunan infrastruktur fisik dan sosial JPO,” tegasnya

Ia mengharapkan pemerintah setempat dan dinas instansi terkait bisa jemput bola jangan hanya diam saja.

Sementara, Intan (35) warga lainnya memaparkan, kalau hujan deras dihulu yang kena pasangnya pasti disini hingga kehilir. Maka dari itu dinas terkait harus turun langsung memantaunya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

” Karena itu perlu adanya pembenahan, seperti pembangunan infrastruktur Tembok Penahan Tanah (TPT), biar kuat dan kokoh kalau diterjang air sungai. Jangan sampai ambruk seperti kemarin, beruntung air tidak terlalu pasang, coba kalau pasang hingga naik permukiman warga, jelas hal itu mengancam keselamatan warga dan bisa merugikan secara material,” pungkasnya.

Ditemui terpisah, salah seorang perangkat Desa Sukamaju, Beben Jubaedi membenarkan, perlu adanya pembangunan infrastruktur fisik dan sosial jembatan penyembarangan orang dan kendaraan roda dua. Apalagi, warga di dua kampung sering melintas di jembatan rel kereta api selama ini. Adapun jembatan yang saat ini digunakan warga adalah jembatan kereta api. Hal itu jelas membuat khawatir terjadi kecelakaan.

” Saat ini dalam sehari pulang pergi (hilir mudik) kereta api lokomotif, melintas enam kali, sementara yang melintas di jembatan itu tidak hanya orang dewasa saja melainkan ada juga anak kecil, pelajar SD, SMP, SMA dan pedagang ” tuturnya

Setelah melaporkan terjadinya TPT ambruk dan minimnya JPO, warga berharap pemerintah setempat bisa lebih peka terhadap kebutuhan publik (fasilitas umum). Entah bagaimana caranya diyakini warga, pihak desa bisa mensiasatinya dengan kucuran anggaran dari pemerintah pusat mau pun daerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here