Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Miris, nasib seorang guru ngaji di Kampung Jamaras 02/06, Desa Sarampad, Kec. Cugenang yang hidup seorang diri (lajang) di rumah panggung yang sudah lapuk termakan usia. Ia tak mendapat perhatian pemerintah.

Ya, adalah mang Abun (52), untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia hanya menjadi pengrajin anyaman bambu seperti membuat boboko (tempat nasi dari bambu), ayakan (saringan dari bambu), dan aseupan (tempat kukus nasi dari bambu). Berbekal keahliannya itulah mang Abun bisa membeli beras untuk makan.

Diakui mang Abun, hasil penjualan prabotan dari bambu itu memang tidak seberapa, dan itu pun kalau ada yang pesan baru ia bisa mendapatkan uang dengan harga jual di kampung yang relatif murah. Padahal jika dilihat dari proses pembuatannya, sangatlah membutuhkan keterampilan/keahlian, ketelitian dan kesabaran supaya hasilnya bagus dan memuaskan pelanggan.

“Namanya juga di kampung harga jualnya juga murah, apalagi yang beli itu tetangga,” kata mang Abun saat dikunjungi di kediamannya, Jumat (05/02).

Mang Abun mengakatan, karena mang Abun tidak bisa kemana-mana lantaran kakinya sakit, dalam kesehariannya selain menjadi penganyam bambu, ia juga menjadi nguru ngaji puluhan murid di kampungnya itu.

“Ada sekitar dua sampai lima puluh anak-anak, remaja dan dewasa yang mengaji Subuh, Dzuhur dan Maghrib di rumah panggung ini,” kata mang Abun.

Dilihat dari keadaan fisiknya, ternyata benar kondisi mang Abun memang tidak sehat seperti yang lain. Mang Abun menderita penyakit gula sudah puluhan tahun sejak di pondok pesantren silam. Karena tidak memiliki biaya untuk berobat, ia hanya bisa pasrah dengan kondisinya seperti itu.

“Kaki saya sakit, katanya si penyakit gula. Saya nggak bisa kemana-mana, bahkan kalau shalat pun saya nyender ke dinding (bilik rumah),” ucap mang Abun.

Kalau masak, lanjut mang Abun, saya kadang menggunakan tungku jarang pake kompor gas karena nggak ada buat belinya. Daripada beli gas mending beli beras saja buat makan.

“Ya, kadang kalau masak suka dimasakin sama adik saya, mungkin karena kasihan melihat saya hidup sendirian dalam keadaan seperti ini,” ungkap mang Abun.

Sebagai seorang guru ngaji, mang Abun memang tidak muluk-muluk, ia hanya mengingikan diberikan kesehatan dan panjang umur supaya bisa mengajar ngaji. Karena ia merasa khawatir dengan pergaulan anak-anak jaman sekarang, “Kebanyakan badannya saja yang gede tapi tidak sedikit yang nggak bisa membaca qur’an/ngaji,” ujarnya.

“Kalau memang ada rezeki dari pemerintah, ya alhamdulillah. Tapi saya berpesan, tolong kepada pemerintah perhatikan anak-anak jaman sekarang yang lebih mementingkan dunia pergaulannya daripada mengaji,” pesannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here