Ustadzah Yati Yuliah, S.Pd.I

Liputan : Sam AS

Cianjur, metropuncaknews.com – Terjadinya gerhana bulan atau gerhana matahari, itu diketahui sejak Nabi Ibrahim As wafat. Hingga saat itu penduduk sekitar menyatakan, terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan, akibat wafatnya Nabi Ibrahim As.

Rasulullah SAW menjawab dalam hadist yang diriwayatkan Bukhari & Muslim, “Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya tanda (dalil) adanya Allah SWT dan kekuasaannya. Kedua gerhana bukan karena matinya seseorang, dan bukan karena hidupnya seseorang, maka apabila kamu lihat kedua gerhana, maka hendaklah kamu berdoa pada Allah, dan shalat sunat sampai habis gerhana,”.

Seperti halnya, bila terjadi gerhana matahati atau gerhana bulan, maka seluruh warga Indonesia yang berada di pelosok kampung, sekitar akhir tahun 60 an, lagsung menabuh bedug, kentungan juga menabuh musik gondang atau memukul lesung (alat penumbuk padi terbuat dari kayu).

Tidak cukup hanya sampai disitu,  ternyata masyarakat mempercayainya, setiap terjadi gerhana selalu dikaitkan dengan mitos. “ Seperti setelah terjadi gerhana selalu dikaitan  dengan kejadian yang akan datang baik kejadian positif maupun kejadian negatif,” ucap ustadzah Yati Yuliah (55) warga Cimaya, Kelurahan Pamoyanan,  Kecamatan Cianjur Kota, Cianjur.

Selanjutnya Yati mengatakan, terjadinya gerhana bulan total pada Sabtu  (28/07), sekira  pukul 01,30 – 05,30 WIB, itu mutlak kehendak Yang Maha Kuasa. Jangan dikaitkan dengan mistis atu mitos kejadian yang akan datang. Karena bila  hal tersebut dipercayainya maka tergolong prilaku yang syirik.

Namun nyatanya saat gerhana bulan total terjadi malam tadi, Yati merasa bersyukur. Karena di lingkungan Cianjur, terdengar banyak umat Islam yang melaksanakan shalat sunat gerhana bulan, berdzikir pada Allah SWT, Takbir, Tahmid, Tahlil dan berShalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Hal itu menandakan, seluruh umat Islam warga Kabupaten Cianjur, keimanan pala Allah SWT  masih kuat. “ Semoga kedepannya Cianjur lebih sejahtera dan lebih agamis,” tutur Yati Yuliah.

Hal senada diucapkan ustadzah Dedeh Siti Marliah (54) warga Pataruman,  Kelurahan Sayang, Cianjur. Dedeh mengatakan, dengan terjadinya gerhana bulan total tersebut, seluruh umat muslim terdengar kompak di setiap mesjid, mushola dan surau melaksanakan shalat sunat gerhana secara berjamaan maupun sendirian.

Tidak hanya itu saja, seletah selesai shalat sunat, mereka langsung melaksanakan dzikir, takbir, tahlil, tahmid,  bersyalawat atas Nabi Muhammad SAW dan bersodakoh. Maka dengan adanya hal tersebut, pihaknya merasa beryukur. Ternyata budaya nabuh bedug, gondang, pukul nampan mengelilingi kampung saat terjadi gerhana masih ada.

Hal itu, menandakan, kadar rasa iman pada Allah SWT, sudah mulai meningkat dibanding tahun 60 kebelakang. “ Semoga seluruh umat Islam dikuatkan iman dan islamnya,” ucap Dedeh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here