Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Haurwangi Dida Sukandi Rukmana S.pd

Laporan : Agus

Cianjur, metropuncaknews.com – Tawuran anak sekolah sekarang ini sudah seperti virus yang terus merusak pikiran sebagian anak-anak sekolah. Padahal, akibat tawuran tersebut, tak sedikit yang menjadi korban luka bahkan sampai ada yang harus kehilangan nyawanya.

Ironisnya, kini tawuran bukan saja dilakukan oleh mereka yang sudah duduk di bangku SMA atau perguruan tinggi, tapi kini sudah mulai dilakukan oleh anak yang beranjak dewasa alias anak SMP. Tentu saja hal tersebut membuat orang tua siswa merasa was was dan selalu tidak tenang, saat anaknya berangkat sekolah.

Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah dan aparat terkait. Namun tawuran tetap terjadi, seperti pada Selasa (8/1) sekitar pukul 13.00 WIB. Yaitu di persimpangan jalan lama Citarum dekat Pos PJR Kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur.

Satu sepeda motor mengejar motor yang didepannya dengan membawa senjata tajam sejenis clurit sambil diacung-acungkan. Padahal mereka masih memakai baju seragam SMP.

“ Tak lama si pengejar jatuh dan tersungkur karena saat akan membacokkan cluritnya si pengendara yang dikejar menendang motornya dan akhirnya jatuh,” ucap Wahyu Setiadi yang biasa dipanggil dengan nama Idam Ketua Pemuda Pancasila PAC Haurwangi saat dikonfirmasi tentang kejadian tersebu.

Wahyu menambahkan setelah jatuh mereka langsung berlari dengan meninggalkan speda motor, tas dan juga clurit. Untuk mengetahui anak-anak tadi siswa dari sekolah mana, akhirnya Wahyu membuka tas yang dtinggal pelajar tadi.

Setelah dibuka, didalam tas tersebut ada topi yang bertuliskan SMPN 1 Haurwangi, beberapa buku tulis, uang sebesar Rp. 5000, dan 1 HP android. “ Setelah mengetahui anak tersebut adalah siswa SMPN 1 Haurwangi Saya langsung menghubungi pihak sekolah untuk meyakinkan apakah benar semua yang tertinggal itu adalah milik siswa SMPN 1 Haurwangi,” kata Wahyu.

Saat dikonfirmasi Rabu (9/1), Wakil Kepala SMPN 1 Haurwangi Dida Sukandi Rukmana S.pd mengatakan, setelah mendapatkan laporan tentang kejadian itu pihaknya langsung mencari tahu dan ternyata benar adanya motor yang jatuh itu adalah milik salah seorang siswanya. Namun motor itu dipinjam oleh temannya yang telah di DO beberapa bulan yang lalu.

Pihak sekolah, lanjut Dida sudah mencoba dengan melakukan beberapa kegiatan untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan terjadi. Dari mulai kegiatan Jumleh atau Jum’at Soleh dilakukan terus sampai saat ini dengan berbagai materi keagamaan dan kedisiplinan.

Selain itu melakukan kerjasama dengan pihak Kepolisian Bojongpicung untuk memberikan arahan pada siswa. Namun tetap saja tawuran itu terjadi. Ternyata hasil evaluasi dari kejadian, ada keterlibatan anak luar bukan siswa yang kadang mengajak anak didiknya untuk kumpul dan akhirnya terjadi tauran.

Dida menegaskan, pihaknya akan terus  berusaha agar hal itu tidak terjadi lagi. Tapi untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal pihaknya berharap agar orang tua siswa pun ikut lebih ketat mengawasi kegiatan anaknya. Selain itu, pihaknya berharap ada keterlibatan masyarakat untuk ikut andil mengawasi. “ Caranya  apabila melihat anak anak berkumpul dan memakai baju sekolah diwaktu jam pelajaran segera menegur dan membubarkannya,” kata Dida.

Sementara, bagian Kesiswaan Iwan Kurnia M.Pd mengatakan, untuk menyelesaikan permasalahan ini sebenarnya tidak hanya pihak sekolah saja yang harus berusaha mengawasinya tapi harus ada keterlibatan wali murid.

Pihaknya sangat menyayangkan dengan sikap orang tua atau wali murid yang kurang perhatian terhadap kegiatan anak anaknya. Hal tersebut diketahui saat pembagian raport dari 1 kelas yang berjumlah 36 siswa orang tua atau wali murid yang datang hanya 8 orang.

“ Karena itu, kami berharap untuk semua wali murid atau orang tua siswa untuk lebih meningkatkan kepedulian dan pengawasan terhadap kegiatan anak,” pesan Iwan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here