Sudah puluhan tahun kondisi jalan di Kedusunan Datarmuncang dan Ujung Jaya, Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur rusak parah dan tak pernah tersentuh perbaikan

Liputan : Shandi/Jay

Cianjur, metropuncaknews.com – Puluhan tahun jalan yang merupakan akses vital, penghubung dua kedusunan yang rata-rata pengahasil gula aren terbesar di wilayah Kecamatan Naringgul, harus merasakan ketidakmerataan pembangunan.

Warga Kedusunan Datarmuncang dan Ujung Jaya, Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, mengeluhkan jalan sepanjang 3 Km yang menghubungkan dua kedusunan rusak parah disertai bebatuan yang terjal.

Salah seorang tokoh masyarakat di kedusunan Datarmuncang, A. Rustandi (55) mengatakan, lebih dari 20 tahun jalan penghubung antar Kedusunan Datarmuncang dan Ujung Jaya belum tersentuh perbaikan.

“Jalan ini termasuk poros desa yang menghubungkan antar desa, yakni Desa Malati dan Cinerang. Warga di kampung tersebut, sangat mendambakan jalan penghubung itu bagus, dibangun dengan rabat beton sama pada umumnya jalan di desa lain.” kata  Rustandi, Selasa, (31/7).

Benar, jalan sepanjang 3 Km itu, sejak dulu sampai sekarang belum pernah tersentuh bantuan untuk pengecoran jalan baik dari pemerintah daerah maupun pusat.

Dalam setiap harinya jalan yang terjal dan penuh bebatuan itu, dilewati warga. Parahnya, lagi kalau ada yang mau melahirkan atau sakit keras, seumpama mengantarkan menggunakan mobil, jalan harus ditumpangi kayu-kayu supaya rata agar bisa dilewati. Saking sulitnya perjalanan, terpaksa masyarakat harus menanduknya sampai jalan Cimalati yang sudah di cor beton.

Hal senada juga dikatakan Atra (30), sejak dulu sampai sekarang  jalan di Datar Muncang dan Ujung Jaya banyak berlubang serta bebatuannya terjal.

“ Jalan ini menghubungkan Desa Malati dan Cinerang. Tentunya jalan terjal bebatuan ini sangat membahayakan pengguna jalan, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan sama sekali,” kata Atra.

Apa karena lokasinya berada di pelosok, sehingga pemerintah membiarkan jalan tetap rusak, seolah menutup mata dan telinga.

“ Sejatinya kami berhak merasakan jalan yang bagus, kami dan warga lainnya pun sama membayar pajak bumi dan bangunan, serta kendaraan.  Dengan dibiarkannya jalan tetap seperti ini, sama artinya dengan membiarkan kami dalam kemiskinan dan ketertinggalan. Kami juga bisa sejahtera seumpama mendapatkan fasilitas yang sama pada umumnya, sehingga tidak akan tertinggal, ” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here