Sidang Ke dua dugaan pelanggaran pidana Pemilu

Laporan : Shandi/Cece

Cianjur, metropuncaknews.com РPengadilan Negeri (PN) Kabupaten Cianjur, hadirkan tiga saksi baru dalam sidang kedua pidana Pemilu, Senin (17/12).

Sidang sebelumnya digelar di ruang Cakra, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kabupaten Cianjur, Hilman Wahyudi dan dua saksi dari tim terdakwa pada saat mengunjungi Madrasah Alhuda di Kecamatan Cugenang. Yakni Nurdin dan Iyam Maryam.

Kedua saksi memang berasal dari tim terdakwa. Namun fakta persidangan, keterangan dari saksi Iyam Maryam dibantah oleh Ati Awie. Pasalnya, ‘terdakwa merasa keterangan yang diberikan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Terdakwa, Ati Awie membantah, dirinya mengucapkan untuk mecoblos dirinya dengan dengan nomor urut 5. Karena saat akhir pertemuan posisi Iyam di luar ruangan. Ia pun membantah adanya keterangan saksi terkait pemberitahuan adanya pembagian paket sembako pada akhir pertemuan.

” Saat akhir pertemuan, saya tidak menyebut akan ada pembagian sembako, dan saksi saat itu (saksi Iyam Maryam, red) lagi diluar, bagaimana bisa tahu kalau saya mengucapkan itu,” bantahnya.

Mendengar bantahan terdakwa, Hakim ketua persidangan, Lusiana Amping memperingatkan saksi untuk menyampaikan hal yang secara pasti diketahui oleh saksi. Jangan memberikan kesaksian yang hanya berupa perkiraan.

” Kalau tidak tahu jangan bilang tahu, jangan memberikan keterangan yang dikira-kira,” ucapnya.

Selain itu, hakim juga mempertanyakan hasil BAP Iyam pada point 8, yang intinya menyebut paket sembako dan stiker bergambar saksi. Padahal seharusnya bergambar terdakwa.

“Ini sebelum ditandatangan BAP dibaca dulu ga?, Pada point 8 ada keterangan stiker bergambar saya (saksi Iyam Maryam, red), ini seperti anda yang berkampanye, bukan terdakwa. Baca dulu sebelum menandatangani,” ujarnya.

Tak hanya itu, pada fakta persidangan kali ini, JPU juga memperlihatkan video rekaman yang merekam pernyataan terdakwa, bilamana terpilih dan mendapatkan dana aspirasi akan memberikannya kepada peserta pengajian di lokasi tersebut. Serta pernyataan, ‘bila terdakwa terpilih akan mengangkat harkat dan martabat wanita’.

Ati Awie tak mengelak, dirinya yang berada dalam video tersebut. Ia juga mengakui kalau dirinya terpilih dan mendapatkan dana aspirasi akan memberikannya kepada warga di lokasi itu. ” Dari dana aspirasi saja, bukan dana pribadi,” tuturnya.

Ati awie mengaku tidak mengetahui, pembagian sembako adalah pelanggaran pemilu. Bahkan iya sempat meminta maaf secara pribadi ke Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Cugenang.

” Ga tahu kalau bagi-bagi beras dilarang. Tanggal 12 Desember, saya meminta maaf ke Panwascam terkait pembagian sembako itu,” ungkapnya.

Sementara, kuasa hukum terdakwa, O Suhendar menegaskan, BAP dan keterangan saksi Iryam Maryam diragukan. Ia menegaskan kehadiran terdakwa ke lokasi itu bukan dalam rangka kampanye, dan tidak memberikan janji-janji, hanya minta doa saja.

“Keterangan dari Ketua KPU tadi, tidak ada secara tegas dalam aturan pemilu baik UU nomor 7 tahun 2017 dan aturan PKPU melarang pembagian sembako. Masih abu-abu, bisa boleh bisa tidak,” jelasnya.

Terkait rekaman video yang menjanjikan dana aspirasi apabila terdakwa terpilih, Suhendar menyebut itu bukanlah janji.

” Bukan janji, seperti janji sih, tapi kalau memang nanti jadi, ada dana aspirasinya, nanti akan dibantukan ke peserta pengajian di lokasi itu,” sebutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here