Laporan : Cece

Cianjur, metropuncaknews.com – Seni Ketangkasan Domba Garut, adalah salah satu kesenian yang terbilang populer ditengah masyarakat Jawa Barat. Kesenian ini adalah warisan budaya yang diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Bahkan hingga sekarang kesenian ini masih tetap lestari.

Demikian dikatakan Asep Mulyana, warga Desa Sukajadi Kecamatan Karangtengah Cianjur, pada acara Seni Ketangkasan Domba Garut digelar di Gekbrong Cianjur, Minggu (23/9) kemarin. Asep adalah pecinta dan sekaligus peternak Domba Garut yang cukup dikenal dikalangan para pecinta Seni Ketangkasan Domba Garut.

Menurut Asep, Domba Garut merupakan sumber daya genetik asli Jawa Barat yang harus tetap dijaga keasliannya. Maka dengan digelar Seni Ketangkasan Domba Garut, diyakini Asep akan mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi peternak Domba Garut.

Disinggung soal laga Seni Ketangkasan Domba Garut, Asep mengatakan,  sebelum laga digelar, pihak panitia penyelenggara membagi beberapa kelas. Yaitu kelas A, kelas B dan kelas C. Pembagian kelas itu disesuai dengan berat badan domba.

“ Kalau dalam tinju mungkin kelas A adalah kelas berat, kelas B itu kelas menengah dan kelas C adalah kelas ringannya,” kelakar Asep.
Lebih lanjut Asep mengatakan, pada laga Seni Ketangkasan Domba Garut, ada aturan yang diterapkan pihak panitia. Aturannya pun sangat ketat. Hal ini dimaksud agat domba tidak tersakiti dan sekaligus menjunjung tinggi prinsip keselamatan dan kesejahteraan domba itu sendiri.

Seperti pukulan pada setiap laga, lanjut Asep. Pihak panitia hanya memboleh 10 (sepuluh) sampai maksimal 20 (dua puluh) kali pukulan dalam satu kali pertandingan. Laga ketangkasan dipimpin wasit dan diawasi dewan juri.

Sedangkan kriteria pemenang laga dan juara ditentukan oleh bobot pukulan, gaya bertanding, ketangkasan, keindahan fisik, kelincahan dan lainnya.

Lebih lanjut Asep mengatakan, ada yang unik pada laga Seni Ketangkasan Domba. Selain diringi musik tradisionil Sunda, juga  terlihat tingkat kecerdasan domba. Karena domba yang sedang berlaga seakan mengerti akan perintah majikan atau pelatihnya.  Saat pelatihnya meyuruh maju, maka si domba itu akan menyerang tanpa ada rasa ragu atau ketakutan. Demikian juga ketika disuruh mundur, si domba yang sedang berlaga pun mengikuti perintahnya.

Untuk memeriahkan suasana, selama laga berlangsung, para pemilik domba dan teman-temannya menari mengikuti irama musik yang dibawakan para penabuh gamelan. Seakan mereka itu menari untuk memberi semangat pada domba yang sedang berlaga di tengah arena.

“ Pokoknya semua enjoj walau pun mereka itu sedang berkompetisi,” kata Asep, sekaligus menutup pembicaraannya dengan metropuncak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here