Laporan : Sandi

Sumedang, metropuncaknews.com – Sejumlah komunitas pecinta lingkungan, gelar diskusi yang bertemakan ‘Revitalisasi Nilai-nilai Luhur Masa Lalu Adalah Konservasi Alam. Kegiatan tersebut digelar di Bale Agung Madara Batu Nunggul, Darmaraja Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (19/12).

Adapun yang mengisi materi diskusi tersebut adalah Mas Nana Munajat, S. Sn., M.Sn, (seniman), Ir. Yana Juhana (profesional kehutanan), Kidung Saujana (aktifis cagar alam), Kawi, S. Sn., M.Sn (seniman), Dadan Haerudin (masyarakat kawung Indonesia Pertanusa), Alamsyah Nursela (penulis pendidik), BBWS Cimanuk Cisanggarung, Ir. Oman Abdurahman (geologi), Tatang Sobana (ketua dewan kebudayaan Sumedang), DR Dedi Syeh (sejarawan), Kisworo SHCLI CTLC (bakum MAKN), Rahmat Leweng (pajantala/pangauban), Dedi Turjana (ketua FPRB Kab. Sumedang) dan Romo Yogma (sejarawan).

Kepada wartawan, nyelenggara kegiatan masyarakat adat Darmaraja (MADARA), Hadibar mengatakan, kegiatan yang dilaksanakannya tersebut merupakan kegiatan untuk revitalisasi lingkungan. Tujuannya supaya alam kembali pada penghidupannya dengan cara mengajak masyakat menjaga kelestariannya.

” Ya, karena waduk Jatigede ini adalah salah satu daerah penyangga, dan disini kita adalah masyarakat yang berkewajiban menjaga kelestarian atau bagaimana caranya agar bendungan tersebut tetap terjaga dan terpelihara secara berkesinambungan,” ungkapnya.

Masih dikatakan Hadibar, dengan melakukan atau membuat program penanaman tanaman untuk penghijauan adalah hal yang harus di prioritaskan. ” Terkait bibit dan pohon, kami memang sudah mendapat bantuan dari pihak Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), melalui provinsi Jawa Barat sebanyak 6 sampai 10 ribu bibit pohon,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, terpantau peserta diskusi  itu terlihat dari berbagai komunitas yang isinya kaum millenial. Dikatakan Hadibar, dengan adanya komunitas millenial itu, secara tidak langsung mereka sudah tergugah untuk mencintai lingkungannya demi masa depan.

” Karena orangtua dulu pun ternyata sudah mempunyai caranya sendiri dan memiliki nilai-nilai luhur dengan alam. Makanya kalau berdasarkan tali paranti artinya bagaimana kita menyelaraskan manusia dengan alam jadi bagaimana caranya alam itu terpelihara terjaga oleh manusianya itu sendiri, terutama oleh generasi millenial ini,” kata Hadibar.

Lebih lanjut Hadibar mengatakan, masyarakat merupakan bagian dari khalifah untuk mengelola alam dan bagaimana kesinambungan masyarakatnya juga. Karena nilai-nilai leluhur masa lalu memiliki solusi yang jelas. Seolah-olah keilmuan leluhur kita, sudah sangat canggih jika dibandingkan dengan sekarang.

” Harapan saya dari kegiatan ini, untuk jangka panjangnya adalah bagaimana waduk bendungan Jatigede ini terpelihara dan terjaga dengan baik, kemudian jika lingkungannya hijau otomatis tidak akan ada abrasi. Lebih jauhnya lagi, kesadaran masyaakat akan alam tidak hanya samapai disini saja tetapi bisa menjadi motivasi untuk masyarakat lainnya,” harapnya.

Senada dengan hal tersebut, Kang Lukman selaku anggota Madara, sekaligus pegiat lingkungan menambahkan, pendapat terkait tekad dan agenda Madara ke depan. Sebagai komunitas berbasis kebudayaan, Madara ingin memunculkan warna baru terkait kebudayaan dan ikhtiar pelestarian lingkungan dan alam secara keseluruhan. Karena, komunitas kebudayaan harus kembali kepada narasi narasi kebudayaan yang sesungguhnya berhubungan erat dengan lingkungan dan alam.

” Alam adalah waruga atau ruang bagi tindakan tindakan budaya yang lahir dari aktivitas hidup manusia, maka menjaga, merawat dan mengembangkan lingkungan dan alam menjadi fardhu ‘ain bagi pegiat kebudayaan, sehingga rusaknya alam secara otomatis akan memusnahkan segala hal dalam kebudayaan”, demikian Kang Lukman menambahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here