Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Semenjak ditinggal mendiang istrinya belasan tahun silam, kehidupan Rosidi (61) sangat mengkhawatirkan. Bahkan kini ia tinggal bersama anak bungsunya di sebuah lahan bekas pos pemakaman yang berukuran sekitar 4×4 meter di Kampung Kingkung RT 02/01 Desa Pakuwon Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur.

Karena sudah tak mampu lagi bekerja, untuk berjalan pun dibantu sebuah tongkat yang berukuran panjang sekitar satu meter. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, ia hanya mengandalkan belas kasihan orang lain.

“ Kalau untuk makan dan minum, alhamdulillah ada saja. Meskipun hanya mengandalkan pemberian orang lain dan kerabat yang memiliki rezeki lebih,” kata Rosidi.

Dia mengaku, sebelum seperti sekarang ini, ia pernah memiliki keluarga utuh. Hidup bahagia bersama anak dan istrinya di sebuah rumah di Kampung Leuweung Datar Desa Pakuwon Sukaresmi. Semenjak ditinggal istrinya perasaan pilu dan duka masih ia rasakan.  Sehingga kehilangan semangat hidup dan rumahnya kesayangannya pun habis dijual.

“ Pada saat masih bersama, kehidupan kami masih normal, meskipun masih ada saja yang kurang. Namun setelah ditinggal istri 12 tahun silam, rasa pilu dan duka ini masih melekat. Berjuang untuk berjualan pun ngedrop,” akunya.

Masih dikatakan Rosidi, untuk menyambung hidup keluarga saat itu ia berjualan cincau. Tapi karena ngedrop ditinggail istri tercintanya, untuk memikul tanggungan berjualan pun sudah tak mampu. Lantaran kakinya tak bisa berjalan normal.

” Kaki saya tidak bisa berjalan normal, setelah delapan tahun silam tertabrak kendaraan,” ungkapnya.

Tak hanya sampai disitu saja, Rosidi pun mengaku, matanya sudah tidak normal lagi karena katarak. Dan kelenjar dibagian tubuhnya masih terasa.

“ Mata saya seperti melihat objek, padahal sebenarnya tidak jelas,” ujarnya.

Rosidi bersama anak bungsunya, pernah tinggal di satu pesantren yang ada di Desa Cikanyere Kecamatan Sukaresmi. Namun, karena ia sendiri yang ingin hidup tenang, akhirnya memilih kesana kemari mengharap belas kasihan orang lain.

“ Belasan tahun setelah ditinggal istri, saya membawa putra paling kecil seumuran 12 tahun untuk berjuang di luar. Karena putri sulung saya sudah menikah dan anak kedua saya pun diajaknya,” ucapnya.

Rosidi berharap, bisa memiliki rumah yang layak dan memiliki putra-putri yang soleh dan solehah serta berbakti kepada kedua orang tua.

“ Sebenarnya saya juga nggak mau numpang terus ke orang lain, artinya ingin punya rumah sendiri, karena anak laki-laki saya belum bekerja. Kalau yang paling sulung dia perempuan sudah bersama keluarganya, walaupun hidupnya masih sama-sama kurang,” tandasnya.

Rosidi beserta anaknya itu pernah numpang tidur di salah satu Masjid. Kemudian pindah ke pondok pesantren, hingga belasan tahun dan  akhirnya kini tinggal di bekas pos dekat pemakaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here