Ilustrasi

Catatan : Fajrilah Samlawi

Cianjur, metropuncaknews – Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang dimiliki seorang mahasiswa begitu besar. Disisi lain memiliki peran strategis sebagai calon pemimpin dimasa yang akan datang.

Eva Juliyanti, mahasiswi semester 5 STAI Al-Azhary Cianjur berpendapat, mahasiswa merupakan seseorang yang belajar di perguruan tinggi yang berpikir kritis, rasional dan universal. Seorang mahasiswa memiliki ciri-ciri yang signifikan.

Pertama, memiliki kemampuan dan juga kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi. Sehingga dapat digolongkan dalam golongan intelejensia. Kedua, dengan memiliki kesempatan yang ada, mahasiswa dapat diharapkan kelak bisa bertindak sebagai pemimpin yang mampu serta terampil. Baik sebagai pemimpin masyarakat mau pun dalam dunia kerja.

Ketiga, mahasiswa diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses moderenisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat, mahasiswa diharapkan mampu memasuki dunia kerja dan profesional.

Lanjut Eva menerangkan, di era melenial, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mengalami perkembangan yang begitu pesat. Sehingga memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi, melakukan interaksi dan komunikasi.

Namun, dengan adanya kemudahan di era yang serba digital ini, tidak sedikit mahasiswa yang terperangkap dalam zona apatis (acuh tak acuh) dan bergaya hedonis (menganggap kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama dalam hidup). Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang menyandang gelar kupu-kupu yang merupakan akronim dari kuliah pulang – kuliah pulang.

Mereka lebih memilih untuk fokus mengikuti perkuliahan saja, tidak mau terlibat dalam hal-hal yang kompleks. Misalnya berperan aktif dalam organisasi kemahasiswaan intra kampus maupun ekstra kampus. Tidak memiliki kesadaran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Untuk merenkontruksi mahasiswa apatis tersebut, diperlukan penanaman nilai-nilai kesadaran dengan melakukan upaya perubahan struktur kognisi terlebih dahulu agar mahasiswa memahami akan arti pentingnya nilai-nilai konservasi (pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan). Selain itu diperlukan pendekatan intuisi dalam merekontruksi mahasiswa apatis. Pendekatan ini dilakukan dengan cara membawa imajinasi dan suasana hati para mahasiswa pada heroisme tata nilai konservasi.

“ Karena itu, rekontruksi nilai-nilai kemahasiswaan ini sangan penting untuk menyadarkan mahasiswa yang apatis, khususnya di Kabupaten Cianjur.” tutup Eva dengan nada tegas saat dikonfirmasi metropuncaknews.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here