Laporan :  Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Pasca terjadinya pembunuhan salah seorang perawat Puskesmas Mande, Neng Imas Mulyani yang ditusuk suaminya sendiri Kusnadi Jelani (KJ) di ruang praktek sebelah kanan rumahnya di Kampung Pasir Waru, Desa Mekarwangi Kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur,, pada Senin (24 Mei 2021) sekira pukul 05.00 WIB.

Untuk megakuratkan data penyidikan, jajaran Polres Cianjur yang dibantu Kanit Reskrim Polsek Bojongpicung dan disaksikan pihak Kejaksaan Cianjur, Selasa (15/6/2021) melakukan melakukan reka ulang (Rekonstruksi) tragedi pembunuhan Neng Imas Mulyani.

Rekonstruksi tersebut, dilaksanakan di lapangan tembak Mapolres Cianjur yang pelaksanaannya dipimpin langsung Kanit Reskrim Polsek Bojongpicung dibantu anggota reskrim lainnya dan tiga orang saksi.

Kanit Reskrim Polsek Bojongpicung, Iptu Supardi SE mengatakan, dilaksankannya rekonstruksi tersebut, tiada lain untuk memperjelas, mengakuratkan perbuatan pelaku pembunuhan terhadap istrinya sendiri Neng Imas Mulyani.

Pelaksanaan rekonstruksi dilaksanakan di lingkungan Polres Cianjur, itu berdasarkan hasil kesepakatan bersama dengan pihak keluarga korban. Karena kalau dilakukan di TPK takut terjadi hal yang tidak diharapkan semua pihak.

Hasil rekonstruksi yang dilakukan pelaku sebanyak 22 adegan yang disaksikan pihak pengacara, Kejaksaan dan dari pihak Polres itu sendiri. Pelaku mengaku seluruh adegan rekonstruksi  tersebut, sesuai dengan apa yang dilakukan pelaku  saat melakukan pembunuhan terhadap korban.

” Melakukan pembunuhan, itu akibat istrinya minta diceraikan, namun dari pada dicerai, berpisah lebih baik pisah mati,”  Ucap Supardi menirukan ucapan pelaku.

Atas perbuatannya, sambung Supardi, pelaku diancam hukuman mati atau hukuman seumur hidup.  Karena telah melakukan pembunuhan secara berencana dan melanggar Pasal 340, 338 KUHP dan Undang Undang  KDRT, tambahnya.

Sementara itu,  Kakak kandung korban  Uus Mulyana mengatakan, pihaknya melihat pelaku merasa geram. Namun demi kepentingan penyidik maka pihaknya mampu menyimpan emosi.

Karena selain, muak melihat mukanya juga banyak kejanggalan saat melakukan rekonstruksi. Banyak pakta yang tidak akurat. “ Untuk sementara biarlah seperti itu, tapi nanti saat persidangan mungkin saya akan menjadi saksi,” ujar Uus.

Mengenai kesehariannya, pelaku tergolong orang pendiam. “ Selalu menyendiri dan sering mengancam keluarga korban juga setiap ke rumah selaku bawa senjata tajam,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here