Tempat mengolah Tutut milik Agus yang kini terlihat sepi

Liputan : Sam As/Agus

Cianjur, metropuncaknews.com – Pasangan Suami Istri (Pasutri) Agus Nata (48) dengan Eti Rohaeti (43),  warga Kampung Parungbitung RT 01/01, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur Jawa Barat,  sudah lama mempoduksi rebus Tutut (semacan Siput-Red). Rebus Tutut tersebut kemudian dikemas dalam kantong  plastik transparan, dijual para pedangan asongan berkeliling di lingkungan sendiri maupun ke setiap peloksok kampung di Kabupaten Cianjur, Sukabumi dan di perkampungan Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Agus Nata, laba dari hasil menjual Tutut itu, tiap harinya hanya cukup untuk makan, biaya anaknya berangkat kesekolah dan jajan anaknya.

Nahas, Tutut yang diproduksi Pasutri tersebut, Minggu (22/07) lalu, membuat geger warga Kabupaten sukabumi dan warga Kabupaten Bandung Barat. Pasalnya, warga yang telah mengkonsimsi Tutut hasil olahan Agus dengan Eti itu mengalami keracunan, Tentu saja Pasutri, para pedagang dan penjual tutut mentah harus berurusan dengan pihak kepolisian setempat.

Sementara itu, Agus saat ditemui di rumahnya, Senin (30/07) mengatakan, usaha rumahan mempoduksi Tutut itu sudah cukup lama. Bahkan pada 2015 mendapat bantuan dari Pemkab Cianjur berupa alat pres plastik untuk kemasan Tutut olahannya.

Menurut Agus, biaya produksi Tutut. mulai dari membeli tutut mentah, bumbu, ongkos menumbuk ekor tutut dan kayu bakar, itu cukup tinggi. Sedangkan pendapatan tiap harinya kurang maksimal. Hanya doakuinya cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Biarpun penghasilan nimin tetap saja digelutinya sampai sekarang dan selama memproduk kulub tutut belum pernah mendapat kendala apapun.

Namun nahas, sekarang ini pihaknya mendapat musibah. Yaitu warga yang telah mengkonsumsi Tutut hasil lahannya keracunan. Bahkan sampai ada yang meninggal dunia. Tentu saja hal tersebut membuat dirinya  kaget.

Sehubungan dengan hal tersebut, Agus minta maaf pada semua pihak. Terutama pada warga Sukabumi dan Bandung Barat yang mengalami keracunan hingga meninggal dunia.

Agus menegaskan. semua itu tidak ada usur kesegajaan dan mungkin juga hal itu hanya merupakan suatu petaka bagi dirinya beserta keluarga dan para pedagang lainnya.

Karena selama memproduksi Tutut, lanjut Agus, belum pernah ganti cara olahan. Baik  bumbu, cara membasuh tutut mentah, kemasan, semua dilakukan seperti biasanya. Hingga kini, Agus pun belum bisa mengetahui secara pasti,  apa penyebabkan terjadinya keracunan massal.

Biarpun seperti itu, pihaknya pasrah saja dan mungkim saja hal tersebut, berasal dari tutut yang hidup di genangan air waduk Cirata. Diduga airnya sudah terkontaminasi, hingga menjadi racun pada tutut dan mahluk lainnya yang ada di genangan air tersebut.

Selain minta maaf terhadap para korban keracunan massal, Agus menyatakan, tidak akan berjualan Tutut lagi. “ Saya akan alih profesi berjualan pisang goreng atau usaha lainnya,” ucap Agus Nata yang diamini istrinya  Eti Rohaeti.

Sementara, Kepala Desa Kertamukti, Cepi Agustina mengatakan,  Agus Nata dan Eti Rohaeti,  telah lama memproduksi rebus Tutut. Selama itu belum pernah mendengar ada yang keracunan akibat mengkonsum Tutut hasil olahannya.

Namun kemarin, sempat mengagetkan pihakya. Karena  warga Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bandung Barat, mengalami keracunan massal hingga ada yang meninggal dunia. Semua itu akibat mengkonsumsi Tutut hasil produksi pasutri Agus dan Eti.

Maka dengan adanya hal itu, pihaknya ikut prihatin pada pasutri Agus dan Eti yang telah mendapat musibah. Tentu saja semua itu bukan unsur sengaja. Selain itu pihaknya mohon maaf dan ikut bela sungkawa pada seluruh korban keracunan  khususnya pada keluarga korban yang meninggal dumia.

“ Kami berharap, Agus lebih baik cari pekerjaan lain. Karena Tutut hidup di air waduk Cirata yang diduga sudah mengandung racun yang berasal dari limbah pabrik tektil  yang ada dibagian hulu sungai Citarum,” harap Cepi Agustina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here