Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Taman Makam Rimbauan (TMR) Mandalawangi Cianjur, seluas 8 Ha yang berlokasi di lingkungan Wana wisata Pokland, Desa/Kecamatan Haurwangi, Cianjur. Makam tersebut mulanya akan digunakan untuk pemakaman khusus keluarga pensiunan Perhutani Jawa Barat. 

Namun hal tersebut menuai kontroversi. Hingga pengurus Yayasan Agenda Hijau Indonesia (YAHI) Cianjur, melayangkan surat somasi pada Kementrian LHK yang ditembuskan pada Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten (Janten). 

Maka dengan adanya somasi tersebut, Pihak Perhutani Janten langsung respek, melakukan pertemuan terbuka, Rabu (17/06), di aula kantor persemaian kayu keras di Poklan Haurwangi. 

Saat pertemuan antara TMR dengan YAHI dihadiri Kakandep Perlindungan Hutan Janten, KPH Cianjur, BKPH Ciranjang Selatan, Pengurus Lembaga Masyarat Desa Hutan (LMDH), Pengurus BPD Haurwangi dan elemen masyaraktat desa setempat. 

Musyawarah tersebut, membuahkan hasil yaitu, lokasi TMR ditiadakan. Melainkan tanah seluas 8 Ha tersebut akan dikelola langsung pihak Perhutani. 

Sementara itu, Kakandep Perlindungan Hutan Janten, Ir. Bambang Jurianto menjelaskan, pihaknya datang pada acara musyawarah, itu hanya sebagai fasilitator. Penengah kedua belah pihak antara Pengurus TMR dengan pihak YAHI Cianjur. 

Setelah dimusyawarahkan, ternyata pihak pengurus TMR menyadarinya, lahan seluas 8 ha tersebut, tidak akan dijadikan TMR. Saat itu pula surat perjanjian pembatalan  ditandatanganinya dan seluruh lahan seluas 8 ha diserahkan kembali pada pihak Perhutani Janten.  

Dilain pihak, Sekjen YAHI Kabupaten Cianjur Endang Kohar menjelaskan, dilakukannnya somasi pada pihak Kementrian LHK tentang adanya TMR di tengah-tengah Wana Wisata Poklan. Hal itu dilakukan itu berdasarkan hasil kajian Yahi dan banyaknya pengaduan dari masyarakat Desa Haurwangi. 

Karena dengan adanya TMR itu, akan merusak lingkungan. Terutama  tercemarnya air bersih yang mata airnya berada ditengah-tengah lahan TMR yang kerap kali digunakan masyarakat setempat. Adanya TMR diduga akan terjadi perbedaan ras dan banyak hal lainnya. 

Namun setelah dilaksanaknnya pertemuan yang difasilitasi pihak Kakandep Perlindungan Hutan Janten beserta jajarannya, pihak pengurus TMR membatalkan akan adanya TMR. Sedangkan lahan seluas 8 Ha kepemikikannya diserahkan kembali pada pihak Perhutani Janten.  Endang Kohar mengucapkan terima kasih pada pihak Kementrian LHK, Perhutani Janten,  KPH Cianjur, Pengurus TMR, BPD Haurwangi, LMDH Poklan dan tokoh masyarakat yang telah ikut andil dalam musyawarah tersebut. Hingga akhirnya mendapat keputusan yang pasti. “ Yaitu tidak akan adanya TMR dilingkungan Wana Wisata Poklan,” ucapnya.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here