Pengrajin sapu tamiang sangat mengharapkan perhatian pemerintah

Laporan : Shandi

Cianjur, metropuncaknews – Mungkin nama sapu tamiang sangkir kurang begitu dikenal di Indonesia. Padahal sapu tersebut merupakan salah satu karya masyarakat lokal yang layak untuk dikembangkan.

Seperti halnya di Cianjur Selatan dan Bandung. Jenis sapu tersebut sudah sangat populer dan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat.

Selain harganya terjangkau dan ramah lingkungan, sapu yang terbuat dari bahan baku bambu tamiang itu, bulan-bulan ini sedang naik daun. Sehingga banyak diminati masyarakat.

Namun sangat disayangkan dan merupakan polemik besar bagi para pengerajinnya. Mereka terkendala dengan modal dan pemasaran. Sehingga tidak bisa memenuhi pesanan dari luar konsumennya.

Diakui para pengerajin sapu tamiang sangkir asal Kampung Pasagi RT. 02/04 Desa Wanasari, Kecamatam Naringgul, Cianjur Selatan, Jawa Barat, mereka sangat mengharapkan bantuan pinjaman modal usaha. Baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Karena dianggapnya jika terus dikembangkan akan menjadi sebuah proyek besar dan diyakini bisa mengurangi angka pengangguran di wilayah tersebut.

Adalah Rasidah ( 21 ), salah seorang  pengerajin sapu tamiang sangkir asal Desa Wanasari Naringgul. Dia menjelaskan, sewaktu dikonfirmasi wartawan, Senin (10/9), ia bersama pengerajin sapu lainnya sangat mengharapkan bantuan modal dari pihak pemerintah baik daerah dan pusat. Termasuk juga bantuan untuk pemasarannya.

” Saat ini modal yang kami gunakan,  dapat pinjam dari BRI dengan proses yang sangat sulit,” aku Rasidah.

Disinggung mengenai harga sapu, Rasidah mengatakan, harga sapu yang sudah jadi bervariatif, sesuai ukuran besar kecilnya batangan sapu. Harganya mulai Rp. 20.000,- hingga Rp. 25.000,-/batangnya. Jujur saat ini pesanan sapu dari dalam dan luar daerah meningkat drastis. “ Namun,   karena kami kekurangan modal untuk beli bahan bakunya, terpaksa pesanan tidak terpenuhi sehingga yang kami layani seadanya saja,” ungkap Rasidah.

Hal yang sama dikatakan salah seorang ketua kelompok pengrajin sapu tamiang sangkir. Herman (28), ia bersama warga lainnya bergelut dibidang pengrajin sapu tamiang  dan sudah hampir puluhan tahun, dan hampir satu Kampung Pasagi rata-rata penduduknya usaha yang sama.

” Sudah hampir puluhan tahun keluarga kami menggelutinya, bahkan sudah turun temurun bergelut jadi pengerajin sapu tamiang, dari jamannya bapak saya hingga sekarang dipegang saya sendiri, belum pernah mendapatkan bantuan baik itu modal atau penyuluhan dan bimbingan dari pemerintah,” kata Herman.

Lebih lanjut Herman mengatakan,  pekerja yang rata-rata adalah ibu-ibu sejumlah 20 orang. Dalam sehari dikelompok uasahanya, bisa menghasilkan  sapu hingga  400 biji dan untuk bahan bakunya dibeli dari warga setempat.

Ada pun yang beli langsung keluar daerah, yakni dari Jawa Tengah. Sebab kalau bahan baku dari kampung engak selalu ada, kalau bahan baku dari kampung biasanya hanya enam bulan sekali. Tidak seperti di Jawa Tengah yang setiap harinya ada, mengenai harganya sekitar Rp.  21.000,-/Kg.

“ Seumpama pemerintah daerah maupun pusat memperhatikan usaha kami, mungkin kesejahteraan masyarakat di pelosok seperti kami ini, bisa terangkat dan bisa turut sejahtera sebagai para pengrajin sapu tamiang sangkir ini,” kata Herman dengan penuh harap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here