Puk bantuan yang dikirim diturunkan di pinggir jalan

Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah telah mengucur berbagai program bantuan. Salah satunya, program pupuk. Seperti yang diterima Kelompok Tani (Poktan) Silihasih I Kampung Babakan Laban, Desa/Kecamatan Bojongpicung, Cianjur, Jawa Barat.

Poktan Silihasih I menerima bantuan pupuk bersusidi sebanyak 50 ton Pupuk Dolomit. Namun ada bantuan tersebut menimbulkan masalah bagi para petani. Pasalnya, pendistribusiannya tidak tepat waktu hingga cukup menyulitkan masyarakat petani. 

Hasil kesepakatan bersama jauh sebelumnya, pendintribusian dan penggunaannya pupuk Dolomit pada musim tanam (MT) 1. Yaitu pada awal Oktober 2019. Nyatanya sekarang sudah dikirim.

Selain itu, pengirimnya terkesan asal kirim. Buktinya, pupuk untuk Poktan Silihasih I diturunkan di pinggir jalan depan Kantor Bapeltan Pertanian Cihea. Sekitar 5 KM ke tempat sasaran (Kelompok Tani Silihasih 1).

Karuan saja hal tersebut, membuat bingung pengurus dan anggota Poktan serta masyarakat. Sebab pihaknya harus mengeluarkan ongkos angkut yang tidak sedikit nilainya. Selain itu, juga pupuknya menjadi rusak karena dua hari tersiram air hujan. 

Ketua Kelompok Tani Silihasih 1,  Wawan Sumarna (50) menbenarkan, pupuk yang numpuk di pinggir jalan itu untuk Kelompok Tani Silihasih 1.

Selanjutnya untuk membawa pupuk tersebut ke lokasi yang jaraknya mencapai 5 KM lagi diperlukan biaya angkut sebesar Rp 6 juta., Sedangkan pihak armada pengangkut pupuk dari Jakarta hanya mampu mengembalikan ongkos kirim senilai Rp 3 juta. Mau tak mau, pihak Poktan harus rela mengeluarkan ongkos senilai Rp 3 juta. 

Bantuan pemerintah pada Kelompok Tani Silihasih 1, bukan hanya pupuk Dolomit untuk menatralisir keasaman tanah saja, tapi juga pupuk lainnya. Seperi pupuk organik, bibit padi farietas Invasi 32, 33, Pestisida hayati dan tanama Eefujia. Semuanya itu akan dikirim juga, karena hamparan sawah seluas 50 Ha akan dijadikan percontohan pola tanam padi sehat. 

Wawan berharap, hal tersebut tidak terulang kembali. Semua kiriman harus jelas waktunya, Demikian pula harus dikirim ke tempat telah ditentukan. Jangan asal kirim. “ Artinya pengirimnya harus tepat waktu dan tepat sasaran,” jelas Wawan.

Sementara itu, pemerhati pertanian Endang Kohar mengatakan, hasil pantaunnya di beberapa kelompok tani yang mendapat bantuan pemerintah pusat melalui Kementrian Pertanian. Seperti bantuan untuk Poktan yang ada di Kecamatan Haurwangi, Ciranjang dan Bojongpicung Kabupaten Cianjur. Pendistribusiannya terkesan asal asalan.

Pendistribusiannya tidak tepat sasaran dan tepat waktu. Padahal waktu dan tempatnya telah dimusyawahkan dan disepakati sebelumnya. Seharusnya didistibusikan pada awal Oktober 2019. Karena itu, Endang Kohar menduga, pendistribusian dilakukan sekarang karena adanya uang presentare untuk oknum pengurus di dinas pertanian. 

Seharusnya bentuk bantuan pemerintah, tidak membuat masalah atau kesulitan pihak yang dibantu. Selain itu juga harus tidak ada lagi uang presentase atau dana perjuangan. Karena hal itu untuk membantu peningkatan kualitas pertanian dan mensejahtrakan masyarakat petani.

Endang Kohar mengaharapkan, pendistribusian bahan pertanian apapun mohon tepat waktu dan tepat sasaran. Supaya pada pelaksanaannya nanti tepat pula segalanya dan membuahkan hasil yang memuaskan. 

“ Kan waktu penyuluhan pada para petani, pihak Kementerian Pertanian mengatakan, harus menggunakan pola tanam padi tepat guna, tepat sasaran, tepat waktu, tepat bibit dan tepat guna, tapi kenapa kalau pihak dinas, instansi terkait tidak tepat waktu dan tidak tepat sasaran,” ujar Endang Kohar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here