Laporan : Sandi/Dhani

Cianjur, metropuncaknews.com – Ditengah berlangsungnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), di Kabupaten Cianjur. Pemerintah Desa Mekarsari Kecamatan Cianjur, terpantau tidak mengindahkan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dan Maklumat Kapolri.

Bukan kali pertama hal tersebut terjadi. Bahkan telah diingatkan kepada yang bersangkutan. Baik melalui lisan maupun tulisan (berita online), namun tetap saja desa tersebut membandel.

Seperti pada Kamis (14/05), berlangsung di aula Desa Mekarsari pendistribusian kartu combo untuk bantuan pangan non tunai untuk membantu masyarakat. Ratusan calon penerima bantuan dari pemerintah tersebut berkerumun di aula desa tersebut. Warga tidak memperhatikan physical distancing yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah, pihak kepolisian dan dinas/instansi terkait. Padahal, hal tersebut dilakukan pemerintah sebagai upaya penanganan penyebaran virus covid-19.

Namun sangat disayangkan, pada saat berlangsungnya kegiatan pendistribusian kartu combo tersebut, Pemerintah Desa Mekarsari seolah membiarkannya tak ada upaya untuk memberlakukan peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan maklumat Kapolri.

Kasi Kesra Desa Mekarsari Firman A yang sekaligus menjadi panitia pelaksana kegiatan tersebut saat ditemui mengatakan, untuk kegiatan hari ini pendistribusian kartu combo untuk bantuan pangan non tunai di Desa Mekarsari untuk total jumlah calon penerima kurang lebih 400 kepala keluarga.

” Untuk pendistribusian hari ini di BRI Pamoyanan sekitar 110, sisanya dibagi ke BRI unit lain dan akan segera didistribusikan semua. Untuk penerima penerima manfaat BPNT awal itu ada 534, sekarang bertambah 400 KK menjadi sekitar 934 KK,” kata Firman.

Disinggung mengenai PSBB yang seolah terkesan tidak diindahkan, Firman menjawab, sebelumnya pihaknya sudah mengimbau melalui RT/RW seperti diwajibkan memakai masker. Sebelum masuk pun dicek terlebih dahulu menggunakan thermoguard, dan menyediakan tempat cuci tangan.

” Sebetulnya kami sudah menjadwalkan mengatur jamnya, cuman yang namanya masyarakat mungkin semuanya juga ingin didahulukan. Sebetulnya kami juga sudah menduga dan memprediksi akan membludak seperti ini, dan jarak pun sudah kita atur dengan menyediakan tempat duduk berjarak 1 meter,” ujar Firman.

Menyikapi pernyataan tersebut, sama halnya dengan hasil konfirmasi sehari sebelumnya, Rabu (13/05) saat awak media mengkonfirmasi Sekretaris Desa (Sekdes) Mekarsari Tuti, mempertanyakan posko penanganan covid-19 tingkat desa. Pasalnya terlihat sepi tak ada petugas yang jaga.

” Awal-awalnya memang selalu ramai, petugasnya hadir semua tujuh sampai delapan orang. Terus mereka juga minta dijadwalkan setiap harinya siapa saja yang bertugas secara bergilir. Tapi nggak tahu kenapa karena bulan puasa mungkin ibu-ibunya malas atau bagaimana saya juga kurang tahu,” kata Tuti saat ditemui diruang kerjanya.

Melihat hal tersebut, nampak Pemerintah Desa Mekarsari tidak tegas dalam menjalankan aturan-aturan yang sudah disepakati oleh pemerintah dan Kapolri. Sehingga mencerminkan budaya yang tidak baik.

Hingga berita ini diterbitkan, Ujang R belum bisa dimintai keterangan, karena tidak ada ditempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here