Masjid Agung Cianjur

Laporan : Shandi 

Cianjur, metropuncaknews.com – Ada yang berbeda dengan perayaan Idul Adha 1439.H/2018. Yaitu pelaksanaan qurban yang biasanya dilaksanakan di masjid Agung Pemkab Cianjur seusai sholat Idul Adha, nyaris tidak terlihat.

Usut punya usut, ternyata pelaksanaan qurban Pemkab Cianjur berpindah tempat ke Campaka tidak di masjid Agung Cianjur.

Jelas, masyarakat yang biasanya berkerumun menyaksikan pemotongan hewan dan mengharapkan jatah daging hewan qurban di masjid Agung Pemkab Cianjur, merasa kecewa. Dan kritikan tajam pun bermunculan dari berbagai pihak.

Pemotongan hewan qurban di areal halaman masjid Agung Pemkab Cianjur sudah menjadi tradisi dari dulu. “ Kalau sekarang ditiadakan, jelas masyarakat sudah pasti akan mulai mengkritik terjadinya hal tersebut,” kata Ajid (50) warga Bojongherang.

Ada apa ini, lanjut Ajid. Koq, seluruh hewan qurban diboyong dan disembelih di Campaka. “ Apa karena sekarang rumah Bupati berada disana,” tanya Ajid.

Selain Ajid, kritikan pedas juga diungkapkan Eman (43), warga sekitar Masjid Agung Cianjur. Ia merasa bingung dengan keputusan itu, padahal setiap hari raya Idul Adha, masjid Agung Cianjur selalu dipenuhi warga yang ingin melihat prosesi pemotongan hewan qurban.

“Ya, sekarang lokasi Mesjid Agung menjadi sepi kehilangan pamor, dampaknya jualan saya pun menjadi sepi, karena sepinya pengunjung” kata Eman saat ditemui dilapak dagangnya sekitar Masjid Agung Cianjur, sembari mengelus dada, karena barang dagangannya masih numpuk.

 

Melalui Kabag Humas Pemda Cianjur, Gagan Rusganda mengatakan, proses pemotongan hewan qurban tidak dilaksanakan di sekitar Mesjid Agung Cianjur, berdasarkan pertimbangan kondisinya kurang memungkinkan. Namun, Kendati demikian untuk pendistribusian daging qurban mesjid Agung, tetap dilaksanakan sesuai kuota hasil musyawarah.

” Sesuai dengan kuota yang disepakati DKM Mesjid Agung dan Panitia, akan distribusikan sebanyak 1.500 kantong daging kurban,” terangnya saat dihubungi melalui salah satu aplikasi pesan Whatsapp, Rabu (22/8).

Ya, kritikan pedas pun datang dari kalangan aktivis yang merasa prihatin dengan terjadinya hal tersebut.

Adalah Asep Ridwan, Ketua DPC PWRI Kabupaten Cianjur. Ia mempertanyakan keputusan pemindahan pelaksanaan qurban tersebut.

“Mau dibawa kemana Cianjur?. Prosesi penyembelihan qurban yang seharusnya sakral, jangan dijadikan komoditas politik. “Apalagi sebagai mahar balas jasa untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here