Pamugaran rumah KH Basari

Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Rumah panggung ukuran 12 x 10 meter, milik keluarga KH. Basari di Kampung Pasir Angin RT 01/13 Desa Nanggalamekar Kecamatan Ciranjang Cianjur, dipugar Hal itu dilakukan karena rumah tersebut sudah lapuk dimakan usia.

Pamugaran rumah tua tersebut disambut isak tangis keluarga, para tokoh dan masyarakat setempat. Karena mereka teringat pada masa lampau, saat mereka berkumpul menimba ilmu agama bersama KH Basari di dalam rumah yang kini dipugar. 

Selain itu, pihak kelaurga teringat pada kakek KH Basari beserta nenek Mak Hj Djudju Djuhroh. Pasalnya, rumah tersebut tempat berkumpulnya anak, cucu, cicit disaat lebaran tiba. Karena itu, keluarga berharap, rumah tua yang dipugar itu dapat dibangun kembali, rumah mirip rumah yang dulu tempat pertemuan keluarga. 

Tokoh masyarakat setempat Asep Ruhiyat (59) menjelaskan, dipugarnya rumah tua milik keluarga KH Basari, memang membuat haru masyarakat  dan pihak keluarga. Karena rumah tersebut sejak dulu tidak pernah sepi, dijadikan tempat musyawarah, berkumpulnya masyarakat dan pihak kelarga. 

Selain itu masyarakat mengingat rumah tersebut tempat menimba ilmu saat KH Basari masih berada. ” Saya menangis karena ingat sama KH Basari dan Nenek Djudju yang hidupnya sederhana, loyal, santun dan memiliki karisma,” ucap Asep Ruhiyat. 

Sementara itu, cucu KH Basari alamrhum, warga Pondok Gede Bekasi Hj. Yayah Rokayah (33) mengatakan, saat dipugarnya rumah tua milik kakek KK Basari, tak tahan menahan air mata. Teringat pada kakek dan nenek yang telah tiada. Karena saat masih berada selalu diasuh dan ikut ngaji bersama rekan sebayanya. 

Selain itu, setelah berkeluarga, rumah tersebut dijadikan tempat berkumpul keluarga besar KH Basari ketika lebaran tiba.” Ngak kuat menahan airmata teringat kakek dan nenek yang telah tiada, karena dulunya tiap hari seluruh cucu selalu berkumpul bersamanya,” ucap Yayah. 

Cucu lainnya yang kini tinggal di Limbangan Garut, Neng Ima (25) menambahkan, setelah melihat foto rumah Kakek KH Basari dipugar, Ima mengaku merasa sedih dan ingin melihat dipugarnya rumah tua yang penuh kenangan. Karena rumah terbut tempat berkumpulnya keluarga disaat pulang kampung. 

Ima merasa, rumah itu milik keluarga yang senantiasa dijadikan rumah tempat tujuan saat pulang kampung. Karena itu, pihaknya mengajukan pada seluruh anak, cucu, cicit KH Basari, setelah dipugarnya rumah tua, mohon dibangunkan lagi rumah mirip seperti semula supaya kesanya tidak hilang. 

“ kepada seluruh anak, cucu dan cicit keluarga besar KH Basari mohon dibangun lagi rumah mirip seperti semula, untuk dijadikan tempat berkumpul keluarga,” tutur Neng Ima dengan suara parau karena menahan kesedihannya.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here