Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Jembatan lama Citarum yang membentang kurang lebih 150 meter, lebar 6 meter yang menghubung antara Haurwangi, Cianjur dengan Rajamandala, Cipatat dan Bandung Barat.

Jembatan tersebut, dibulan puasa ini, setiap sore selalu dipadati kaula muda, anak-anak bahkan tak ketinggalan orang tua pun banyak yang ikut berdesakan untuk  ngabuburit. Konon katanya, jembatan lama Citarum itu, selain memiliki pemandangan yang indah juga dipercaya sebagai tempat perjodohan.

Mitos tersebut hingga kini melekat dibenak pasangan muda mudi. Hingga pandemi Covid-19 seakan bukan penghalang bagi mereka untuk nongkrong di Jembatan Lama Citarum.

Seperti pada hari kedua puasa (Sabtu25/4), jembatan tersebut dipadati pasangan kaula muda  yang datang dari berbagai kampung yang ada di wilayah Cianjur dan Bandung Barat.

Salah seorang remaja warga Desa Cipeuyeum Kecamatan Haurwangi Cianjur, Agus Apandi (18) mengatakan, tiap bulan suci ramadhan jembatan Citarum lama, sudah pasti banyak dikunjungi muda mudi dan anak-anak. Tujuannya, selain ngabuburit juga sebagai tempat untuk mencari pasangan kekasih. Sedangkan bagi sudah punya gandengan, dengan ngabuburit di atas jembatan itu, dipercaya akan menjadi jodoh yang abadi. Asal ngabuburit di jembatan Citarum lebih dari tiga kali.

Ngabuburit di atas Jembatan Citraun lama, biasanya diawali pada  hari kedua bulan suci ramadhan. “ Namun dihari ke tiga ada hujan hingga pengunjung terlihat agak berkurang. Mungkin besok lusa dan seterusnya akan penuh kembali,  asal tidak hujan,” kata Agus.  

Disinggung mengenai adanya pandemi Covid-19, Agus mengatakan,  bukanya tidak tahu dan tidak takut, semuanya juga tahu dan takut. Tapi semua itu seakan diabaikan. “ Yang penting bisa terhibur dan bisa dapat jodoh juga meyakininya Covid-19 dibulan suci ramadhan itu sudah hilang,” kilahnya.  

Sementara itu, Pengurus PAC Abpednas Kecamatan Haurwangi Endang Kohar mengatakan, memang ngabuburit di atas jembatan lama Citarum itu, sudah merupakan budaya disaat sore hari pada bulan suci ramadhan.

Namun disayangkan banyak pihak, para kaula muda dan anak-anak yang nongkrong di atas jembatan itu, tidak mengutamakan keselamatan jiwanya masing-masing. Hingga jembatan tersebut penuh dengan orang yang nongkrong. Padahal kapasitas kekuatan jembatan tidak ada yang mengetahuinya.

Kalau terlalu sering dipakai sebagi tempai nongkrong, dengan kapasitas yang tidak terbatas, dikhawatirkan jembatan itu akan ambruk. Selain itu, para kaula muda tidak mengindahkan protokol kesehatan. Mereka rela berdesak-desakan, asal bisa nongkrong diatas jembatan lama Citarum. Sepertinya, tertular virus Corona, tak pernah terlintas dalam benaknya.

“ Karena itu, kami mohon pada pihak yang berwenang untuk segera melakukan tindakan, supaya ngabuburit di atas jembatan Citarum  dipantau dan pengunjungna diberi peringatan supaya mereka paham terhadap keselamatan dirinya,” ucap Endang Kohar, Senin (27/04).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here