Nenek Asih yang tinggal sendiri di gubuk reyot

Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Miris, seorang nenek tua renta di Kampung Kadusirna, Desa Nagasari, Kecamatan Leles, Cianjur Selatan Jawa Barat. Bertahun-tahun tinggal sebatang kara disebuah gubuk reyot berukuran 2X3 meter.

Berdinding bilik yang lapuk, bolong-bolong serta tak ada cahaya listrik, dan dibawah atap rumah (genteng) yang pada bocor, disanalah ia tinggal. Kehujanan dan kedinginan pun seolah sudah menjadi bagian dari usia senjanya.

Adalah Asih (70) seorang nenek tua renta yang hidup sebatang kara, jauh dari sanak saudara dan hidup dalam kemiskinan.

Belakangan ini, diketahui nek Asih sering sakit-sakitan karena faktor usia, hingga tak bisa beraktivitas. Bahkan untuk berpindah pun ia ngesot.

Tak cukup sampai disitu. Untuk makan saja nek Asih, saat ini hanya menunggu belas kasihan dari tetangganya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media. Nek Asih, memiliki seorang anak perempuan, yang kini bekerja diperantauan menjadi kuli demi memenuhi kebutuhan orang tuanya yang tinggal sebatang kara.

Salah seorang tokoh pemuda di Kampung tersebut, Ilham Hendrayana (34), mengatakan, nek Asih belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah sama sekali. Bahkan dalam kurun waktu kurang lebih hampir 4,5 tahunanlah, dia sering sakit-sakitan.

” Sebetulnya pernah dibicarakan sama pihak desa, tapi ya begitulah. Sampai saat ini belum ada realisasinya dan terkesan menutup mata. Padahal nek Asih sangat memerlukan bahtuan,” katanya.

Lanjut Ilham, kalau untuk makan dan minum, saya bersama pemuda Desa Nagasari lainnya sering membantu nek Asih. Soalnya anak nek Asih kan gak ada di rumah.

” Nek Asih itu punya anak perempuan, tapi dia merantau, mencari kerja untuk menghidupi orangtuanya yang tinggal satu itu. Atas nama kemanusiaan, saya disini mewakili nek Asih, sangat mengharapkan uluran tangan para dermawan ataupun pihak pemerintah supaya nek Asih bisa hidup dengan layak seperti manusia pada umumnya,” ujarnya.

Pemuda lainnya Aris (27) menambahkan, dalam waktu senggangnya, Aris hampir setiap hari memberi makan dan merawat nek Asih.

” Sekarang kondisi nek Asih sakit sakitan, mungkin karena faktor usia juga. Dan sebetulnya kami ingin membantu lebih nek Asih supaya hidup layak, tapi karena kami juga terbentur masalah perekonomian. Jadi kami hanya bisa memberinya makan sealakadarnya dan merawatnya sebagaimana kami memperlakukan orang tua kami sendiri,” tambahnya.

Terakhir, kalaupun mau dibangun sebetulnya tinggal ada uangnya saja, karena nek Asih sudah memilik tanah peninggalan almarhum suaminya.

” Ya, mungkin pembaca hanya bisa membayangkan saja bagaimana keadaannya nek Asih. Kami yang setiap hari merawatnya, tahu persih seperti apa, nek Asih itu mulai dari buang air kecil dan besar sudah disitu. Terlebih di gubuk reyotnya itu tidak ada kamar mandi (MCK) dan listrik,” ujarnya.

Kami berharap, pemerintah membuka mata hatinya untuk melirik kehidupan kaum miskin yang ada. Karena walau bagaimanapun juga, mereka punya hak atas kewarganegaraannya. Sebab dalam undang-undang Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, ucap pemuda lainnya menambahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here