Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Untuk membantu masyarakat agar tinggal di rumah yang layak huni, pemerintah telah menggelontorkan dana bantuan melalui Program Rutilahu (Rumah tidak layak huni). Namun entah kenapa, program tersebut nampaknya kurang tepat sasaran.

Karena ternyata, meski telah tahunan program tersebut diluncurkan, hingga kini masih ditemukan masyarakat yang tinggal di gubuk reyot yang nyaris ambruk. Ironisnya lagi, ia tinggal digubuk tersebut sudah belasan tahun. Tapi kenapa sampai tidak tersentuh program bantuan dari pemerintah melalui program Rutilahu.

Buktinya, lihat saja pasangan suami istri Ade Muhtar (57) dengan Masamah (55) warga Kp Palalanggon, RT 01/05 Desa Jati Kecamatan Bojongpicung Cianjur. Sudah belasan tahun Ade Muhtar menghuni gubuk reyot ukuran 5×4 meter yang kondisinya memprihatinkan dan nyaris ambruk. 

Konon katanya, gubuk reyot  tersebut, sejak diberikan orang tuanya tidak pernah mendapat perbaikan. Hal itu terjadi karena faktor ekonomi. Pasutri Ade dan Imas, bila turun hujan lebat selalu dihantui rasa was-was dan kekhawatiran. Karena gubuk yang dihuninya selain banyak genting yang bocor juga takut terjadi ambruk. 

Tak hanya disitu penderitaan yang dirasakan Pasutri tersebut. Jika warga lain tetangga satu desa mendapat berbagai bantuan dari pemerintah, tidak demikian dengan Pasutri yang satu ini. Ade Muhtar mengaku, selama hidupnya tidak pernah mendoakan bantuan sosial dari pemerintah. Seperti BLT, PKH, BPNT dan yang lainnya. Kecuali setelah adanya pandemi Covid-19, Ade Muhtar mendapat bantuan melalui program BPNT Perluasan. 

Ade Muhtar saat dihubungi mengatakan, ia tak memiliki pekerjaan yang tetap. Kadang kuli tani, kalau sudah tidak musim menggarap sawah, Ade bekerja sebagai tukang nyortir barang bekas disalah seorang tengkulak rongsokan yang tempatnya tak jauh dari gubuknya. 

Sementara itu, Ketua RW 05, Jalaludin didampingi Ketua RT 01, Yogi Kalwadi mengatakan,  rumah Mang Ade Muhtar telah beberapa kali diajukan untuk mendapatkan perbaikan melalui program Rutilahu pada pihak Desa Jati. Namun entah kenapa, hingga kini belum juga diperbaikinya. Malah terdahului oleh rumah milik orang lain yang rumahnya tak jauh dari rumah Mang Ade. 

Demikian juga mengenai dana bantuan sosial. Keluarga Ade Muhtar tidak mendapat PKH BLT, BPNT secara leguler. Ia baru dapat bantuan dampak pandemi Covid-19 baru mendapatkannya melalui program bantuan BPNT perluasan.

“ Dengan adanya itu, kami pun merasa khawatir semoga saja sekarang  ada dermawan yang mau membantu memperbaiki rumah mng Ade Muhtar,” ucap Jalaludin yang diamini Yogi Kalwadi, Jumat (05/06).  

Dilain pihak,  salah seorang tokoh masyarakat setempat yang namanya minta dirahasiakan  mengatakan, Kepala Desa Jati selama dua periode tak pernah sama sekali berkunjung ke Kampung Palalanggon untuk melihat kondisi  rumah milik Ade Muhtar yang kondisinya nyaris ambruk. 

“ Mustahil kalau tidak mengetahuinya, karena Ketua RT/RW setempat sering melaporkannya yang dilengkapi dengan foto kondisi bangunan rumah milik Ade. Diharapkan pada pihak Kepala Desa Jati, Kecamatan Bojongpicung, adanya kepedulian terhadap masyarakat yang dianggap kurang beruntung, seperti halnya keluarga Ade Muhtar,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here