Kendaraan roda empat diparkir dengan bebasnya tanpa menghiraukan rambu-rambu lalin yang terpasang di sekitar jalan tersebut

Liputan : Yatiman

Bandung, metropuncaknews.com – Jalan Asia Afrika Bandung, merupakan jalan satu arah dan jalan protokol yang selalu dipadati kendaraan bermotor. Untuk menghindari kemacetan lalu lintas (lalin), di kiri-kanan jalan tersebut, terpasang dengan jelas rambu-rambu dilarang berhenti apalagi parkir.

Tapi dalam pantauan metropuncak, Selasa (29/05) sore, banyak kendaraan yang parkir di area yang terpasang tanda dilarang parkir. Ironisnya, ada yang parkir di bawah rambu-rambu lalin yang menyatakan dilarang parkir. Seperinya, rambu-rambu lalin yang terpasang itu, hanya sebagai hiasan semata.

Terlihat beberapa unit kendaraan roda empat parkir pas di bawah rambu dilarang parkir. Bahkan di bawah jembatan penyeberangan yang dari arah Kantor Pos Bandung ke Masjid Raya Bnadung pun nampak bahu jalan digunakan untuk parkir roda dua, berderet hingga hampir ke perempatan Jalan Otista.

Bukan hanya roda dua saja yang parkir di situ. Bahkan roda empat pun berjajar parkir di sepanjang kiri kanan jalan. Padahal jelas-jelas ada rambu dilarang berhenti dan dilarang parkir.

Tidak berapa lama petugas dari Dishub datang dan menempel stiker ke beberapa kendaraan yang terparkir di bawah rambu larangan parkir. Ada yang dipasang di kaca bagian depan kendaraan dan ada juga yang di kaca bagian belakang.

Dari sekian mobil yang parkir, sebagian ada yang berplat luar Bandung. Tapi tidak sedikit juga kendaraan yang berplat Bandung (D) yang seharusnya tahu dan memahami larangan serta rambu rambu di larang parkir.

Bahkan terlihat beberapa pemilik mobil berusaha mencabut stiker tanda peringatan larangan parkir yang di tempel petugas di beberapa  unit mobil yang parkir sembarangan.

Padahal, dalam Undang Undang Nomor 22/2009 mengenai lalu lintas dan angkutan jalan disebutkan, bagi yang melanggar rambu-rambu tersebut, setidaknya akan mendapat hukuman dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan ayau denda paling banyak Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).

Kiranya mungkin, petugas Dinas Perhubungan dan pihak kepolisian khususnya Polisi Lalu Lintas bekerja ekstra keras untuk menyosilisasikan Undang-Undang Lalu Lintas. Hingga masyarakat, terutama para pengguna kendaraan bermotor tahu akan keberadaan UU tersebut. Hingga para pengguna kenadaraan bermotor sadar jika rambu-rambu lalin itu bukan hiasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here