Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Memprihatinkan. Berbagai program bantuan digelontorkan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten ke pemerintahan desa. Tujuannya, untuk membangun desa dan sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan warganya.

Namun, nyatanya harapan tersebut jauh panggang dari api. Buktinya masih ada warga desa yang hidup dibawah garis kemiskinan dan tinggal di gubuk reyot yang nyaris ambruk.

Buktinya, lihat saja Nenek Iyam (70)  warga Kampung Rawabango RT 01/07 Desa Mekargalih Kecamatan Ciranjang Cianjur. Sudah tahunan Nenek Iyam tinggal di gubuk yang kondisinya sangat-sangat memprihatinkan. Betapa tidak, gubuknya sudah lapuk dimakan usia dan miring ke kanan serta nyaris ambruk.

Nek Iyam, saat dihubungi Kamis (20/ 05) mengatakan, rumah yang ia huni sejak dibangun pada tahun 1994, hingga kini belum pernah tersentuh perbaikan. Semua itu karena faktor ekonomi.

Gubuk reyot yang berukuran 7 X 5 meter itu, dihuni 3 Kepala Keluarga (KK) atau sebanyak 7 orang. Sejak 2 tahun yang lalu gubuk tersebut sudah miring kekiri. Karena bantalan kayu tiang paling bawah sudah lapuk. Namun saat itu, kondisinya belum separah seperti kondisi sekarang.

Kini, gubuk tersebut nyaris ambruk. Bila  hujan turun maka seluruh penghuni gubuk langsung berhamburan keluar mencari tempat untuk berteduh. Karena kalau berada di dalam takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

“ Sekarang diam di rumah ini sudah tak nyaman, ada perasaan waswas, apalagi kalau hujan deras turun, kami selalu dibayangi ketakutan. Takut rumah ambruk saat keluarga ada di dalam rumah,” kata Nenek Iyam dengan suara parau menahan tangis.

Sementara itu, Kaur Ekbang Desa Mekargalih Aep Saepudin mengakui, rumah keluarga Nenek Iyam sudah lama reyot, miring ke kiri dan nyaris ambruk.

Bila hujan deras datang, sudah pasti penghuni rumah tersebut berhamburan keluar mencari tempat bernaung. Ikut berteduh di rumah yang ada di sekitar lingkungan yang tak jauh dari rumah reyot.

Upaya keluarga Nenek Iyam  dan masyarakat, terus dilakukan. Baik membuat tiang penahan rumah dari bambu. Selain, juga mengajukan perbaikan pada donatur dan pihak pemerintah setempat. Bahkan, permohonan perbaikan rumah untuk Nek Iyam dilakukannya beberapa kali. Namun entah kenapa, hingga kini belum pula ada yang terpanggil untuk memperbaikinya.

“ Belum lama telah dimasukkan pada prorgarm Rutilahu yang ketiga kalinya, tapi belum pula ada realisasinya, semoga saja dalam waktu dekat ada yang peduli pada keluarga Nenek Iyam,” ucap Aep Saepudin.

Dilain pihak, salah seorang pemerhati pembangunan Kecamatan Ciranjang, Iwan Yusup mengatakan, melihat gubuk reyot milik Nenek Iyam cukup memprihatinkan. Karena selain sudah lapuk, kondisinya miring nyaris ambruk juga dihuni 3 KK.

Ditemukannya gubuk Nenek Iyam yang nyaris ambruk, tentunya merupakan suatu pukulan telak bagi Pemkab Cianjur dan para anggota Dewan yang diberangkatkan dari Dapil III Cianjur. Karena terkesan kurang peduli terhadap warga yang sedang menderita. Karena itu diharapkan pada semua pihak, untuk membantu warga yang serba kekurangan. Jangan ada kalimat setelah ada korban baru ramai menyalahkan pemerintahan paling bawah.

” Jangan ada kesan butuh dukungan masyarakat saat Pilkada dan Pileg, blusukan kesetiap penjuru kampung, menjual kehebatan visi misi tapi setelah jadi seakan tutup mata tutup dan telinga, tak peduli pada warganya” ujar Iwan Yusup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here