Laporan : Sam Apip

Cianjur, metropuncaknews.com – Meski tengah dilanda pandemi Covid 19, pemerintah terus menggenjot pembangunan diberbagai sektor. Terutama pembangunan melalui program padat karya. Selain itu, berbagai program dana bantuan pun terus digelontorkan pemerintah untuk membantu warga yang kurang beruntung dan mereka yang terdampak pandemi Covid 19.  

Namun tidak demikian dengan yang dirasakan Ali (39), buruh tani warga Kampung Babakan RT 01/03 Desa Hegarmanah Kecamatan Sukaluyu Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Puluhan tahun, Ali harus bertahan hidup di gubuk reyot karena keterbatasannya.

Ali bersama istri dan kedua anaknya, harus rela tinggal di gubuk reyot berukuran 4 X 6 meter yang jauh dari kata layak huni. Bahkan,  bagian belakang gubuknya itu, nyaris roboh dan sudah tidak beratap. Karena itu, setiap malam Ali beserta anak istrinya harus merasakan dinginnya angin malam.

Demikian pula jika hujun turun dimalam hari, Ali harus tidur berdesakan di tempat yang tidak tersiram air hujan. Sungguh sangat-sangat memprihatinkan.

Ali saat dihubungi mengatakan, ia sudah tinggal di Kampung Babakan sejak tahun 2009.  Namun, selama itu pula Ali belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintahan desa setempat mau pun pemerintahan kecamatan, kabupaten apalagi provinsi dan pusat.

Padahal, kata Ali, dirinya beberapa kali pernah diminta copy KTP dan Kartu Keluarga (KK) oleh perangkat desa mau pun RT setempat. Ali mengira, copy KTP dan KK itu untuk diajukan pihak desa agar dirinya mendapat bantuan.

Tapi ibarat kata pepatah, jauh panggang dari api. Dari bulan ke tahun, Ali tetap tak pernah mendapat bantuan apa pun dari pihak pemerintah mana pun juga. 

Berangkat dari rasa keprihatinan, Ali terus bekerja dan berjuang untuk mendapat tempat tinggal yang layak huni. Maka saat Ali mendapat warisan sebesar Rp 10 juta, uang tersebut dipergunakan Ali untuk membeli tanah seluas seratus meter. Dengan harapan, kelak kalau ada rejeki akan dibangun rumah di atas tanah tersebut.

Karena itu, dari hasil kerjanya sebagai buruh tani, Ali rajin menabung. Ada sedikit uang ditabungannya, dipakai untuk membeli bahan bangunan.

“ Ada uang sedikit saya beli bahan bangunan, mudah-mudahan suatu hari nanti ada rejeki hingga saya bisa menyelesai bangunan rumah saya tersebut agar saya dan anak istri bisa tinggal di rumah yang layak huni,” kata Ali.

Memang rumah yang dibangun Ali, bisa dibilang baru selesai sekitar 30-40 persen. Kapan akan selesainya, hanya Tuhan yang tahu. Maka alangkah bijaknya, jika mereka yang mampu, mau berbagai dengan Ali. Mari kita buka mata dan hati untuk sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here