Kios yang berdiri di sepanjang jalan Cimacan Puncak Cianjur, dibongkar paksa petugas Sat Pol PP Cianjur

Laporan : Shandi 

Cianjur, metropuncaknews.com – Para Pedagang Kaki Lima (PKL) di jalan raya Cimacan, hanya bisa menatap kosong melihat kiosnya dibongkar paksa Sat Pol PP Cianjur. Dengan wajah kebingungan mereka pasrah menerima kenyataan, kerena tak bisa melawan, Jum’at (19/10).

Kepala Bidang Penegakkan Perda Satpol PP Cianjur, Robbi Erlangga  mengatakan, pembongkaran terpaksa dilakukan karena pedagang di jalan raya Cimacan tidak membongkar kios mereka sendiri. Sesuai kesepakatan yang sudah disepakati koordinator pedagang dengan Pemda Cianjur, sehingga pembongkaran pun dilakukan oleh aparat.

“ Seharusnya, kemarin, dibongkar dengan sendirinya, dan dibuat perjanjian pada tanggal 11 Oktober. Namun, pada kenyataannya, hari kemarin tidak ada pembongkaran. Dan hari ini, kami bersama jajaran DIM bangunan liar melaksanakan pembongkaran kios secara paksa,” jelasnya.

Sementara ditemui terpisah, Wakil Bupati Cianjur, H. Herman Suherman menyatakan, pembongkaran yang dilakukan itu sudah sesuai dengan kesepakatan para pedagang.

” Kita sudah beri waktu satu minggu, dan deadline-nya tadi malam jam 00.00. Hari ini kita bongkar dan Alhamdulillah berjalan dengan kondusif,” ujarnya.

Herman menjamin, keberlangsungan usaha para pedagang dengan menempatkan mereka di pasar Cipanas dan memberi kompensasi bebas pajak selama satu tahun.

“ Barang dagangan mereka sementara kita amankan dulu, dan baru akan kita kembalikan pada saat berjualan lagi. Dan kami juga memberikan fasilitas di pasar Cipanas kepada mereka (para PKL yang kiosnya dibongkar-Red) untuk berdagang,” tambah Herman.

Menurut keterangan, rencana kedepannya, lahan bekas kios pedagang itu, akan ditanami pepohonan guna mengantisipasi banjir.

Dewi Santika (28), salah seorang pedagang yang kiosnya dibongkar mengaku pasrah dan merasa sangat kecewa atas pembongkaran kiosnya.

“ Mau gimana lagi? Tempat kita sudah dibongkar, kita cuma bisa pasrah,” cetusnya dengan suara parau menahan tangisnya..

Karena tidak punya tempat lain untuk berjualan, Dewi mengaku bingung, mau berdagang di mana lagi.

” Kita para pedagang ngak mau di sana, awalnya kita dijanjikan di terminal atas. Tapi ternyata malah ditempatkan di pojok basement, lokasi tersebut sangat sulit untuk dapat pembeli,” pungkasnya.

Tidak hanya Dewi, para pedagang lain pun, mengaku enggan menempati tempat relokasi yang sudah disediakan pemerintah. Yakni di Pasar Cipanas. Karena mereka meyakini di tempat yang disediakan pemerintah itu akan sepi pembeli. Hingga para PKL merasa terancam gulung tikar,kalau memaksakan diri berjualan di basement Pasar Cipanas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here