Ilustrasi

Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Seberapa besar kesadaran masyarakat Cianjur akan sampah, seberapa banyak pengetahuan bahaya sampah disekitar kita? Pertanyaan itu muncul seusai Helaran Budaya yang dilaksanakan di Cianjur Kota, Minggu (18/8) kemarin. Terkuak, kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sampah, masih perlu ditingkatkan.

Buktinya, lihat saja selepas beraktivitas mengikuti atau melihat kegiatan tersebut, Sampah-sampah berserakan dimana-mana. Tentu saja hal tersebut menjadi Pe- eR bagi kita semua. ‘Mau dibawa kemana kota ini?’.

Hal itu menggerakkan hati para aktivis lingkungan. Setelah bubar acara gelaran seni budaya tersebut, mereka turun ke jalan untuk membersihkan sisa-sisa jajanan yang berserakan di sepanjang jalan-jalan protokol yang dijadikan route pawai.

Salah seorang aktivis lingkungan Cianjur, @mang Yadi, angkat bicara mengenai permasalahan penumpukan sampah di Cianjur. Ia mengatakan, membersihkan setelah usai acara itu memang pasti akan terjadi. Namun yang mendasar itu, bagaimana kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Terutama ketika anak-anak berada dilokasi tersebut. Apa peran orang tua disana, ketika melihat anaknya membuang sampah sembarangan, atau orang dewasa yang masih sembarangan membuang sampah?

Menurut Yadi, dalam hal ini keikutsertaan pemerintah sudah tentu sangat dibutuhkan. Sebagai pengayom masyarakat harus berperan aktif dan berani menegakan regulasi.

“ Ya, memang agak rumit, pola sinergitas harus bener-bener dibangun. Cobalah buat pelatihan stakeholder engagedment, bahwa pola kolaborasi itu bisa menyelesaikan masalah, seperti halnya PUPR dan DLH sejalan,” ujarnya.

Lanjut Yadi, diantara banyaknya orang-orang yang mau mengambil peran tentang isu lingkungan, khususnya di persampahan. Upaya bagaimana agar masyarakat sadar, akan kebersihan untuk bumi yang berkelanjutan dan masa depan anak cucu kita nanti. Memang semua itu membutuhkan proses yang harus kita tekuni.

” Salah satunya dengan memberikan contoh dan kesabaran, lalu kenapa kata contoh dan kesabaran ini, menjadi sebuah budaya yang harus kita lakukan dalam bentuk edukasi. Memang suatu hal yang berat, ketika kita mencoba untuk mengajak masyarakat. Jangankan masyarakat, tetangga kita saja, kalau diajak melakukan hal yang baik, tanpa kita berikan contoh, itu akan menjadi sulit, begitu juga terkait masalah isu lingkungan,” paparnya.

Yadi menjelaskan, yang menjadi permasalahan sampah menumpuk, kita harus berani memulai untuk mengajak masyarakat dengan memberikan contoh yang bisa mereka tiru. Dari apa yang kita lakukan, bahwa kebersihan itu memang sangat begitu besar perannya, dalam kehidupan kita sehari-hari. Itu bukan berarti masyarakat tidak tahu terkait kebersihan, tapi kita jangan menjadikannya hal yang samar.

” Artinya mereka bisa merasakan langsung, seperti apa dampak kepedulian isu lingkungan, khususnya kebersamaan dengan kita mengambil peran untuk peduli. Nah ini yang memang harus kita lakukan, terus menerus dengan sabar,” jelasnya.

Selama ini, masih kata Yadi, masyarakat belum terkondisikan terkait dengan masalah isu lingkungan. Cobalah lihat fakta yang terjadi di masyarakat, mereka mungkin saat ini belum merasakan dampaknya langsung. Karena kalau sudah merasakan dampaknya, masyarakat akan melakukan suatu perubahan tanpa harus menunggu.

“ Bukan saatnya saling menyalahkan, karena itu memang tak boleh dibiarkan. Menjaga alam serta menjaga lingkungan adalah kewajiban kita semua, untuk kelangsungan bumi,” pesan Yadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here