Rumah Bakri saat dikunjungi Tim Relawan Kemanusian

Laporan : Sam As

Cianjur, metropuncaknews.com – Bakri (71) pasangan hidup Aisah (42) dan telah memiliki seorang anak laki-laki Jujun (12), warga Kampung Kiara Payung RT 02/06 Desa Ramasari, Kecamatan Haurwangi, Cianjur, telah puluhan tahun menghuni rumah yang tidak layak huni ukuran 3X2 meter.

Kehidupan keluarga Bakri benar-benar sangat memprihatinkan. Betapa tidak, untuk  makan sehari-hari saja, mengandalkan pemberian orang lain. Bahkan tak jarang, Bakri dan keluarganya memungut sisa makanan dari sampah yang dibuang orang di lingkungan Pasar Ciranjang atau di memungut bekas makanan di pinggir jalan raya.

Informasi yang dapat dihimpun, keluarga Bakri telah puluhan tahun menghuni gubuk reyot yang terbuat dari bambu dengan  ukuran 2X2 meter yang berdiri di tengah pesawahan. Namun dua tahun yang lalu gubuk reyot tersebut, sempat direnovasi masyarakat dan pemerintahan Desa Ramasari.  Hingga gubuk tempat Bakri dan keluarga jadi  ukuran 3X2 meter dengan kontruksi semi permanen.

Bakri beserta istrinya tiap hari pergi ke Pasar Ciranjang. Hal itu dilakukan guna mencari sesuap nasi dengan cara meminta-minta sambil memungut sampah plastik, baju bekas, kaleng bekas dan memungut barang yang dianggap berharga baginya.

Sampah plastik yang dipungut bukannya dijual melainkan ditumpuk di dalam ruangan rumah. Begitu pun pakaian pemberian orang lain ditumpuk pula di ruangan tempat tidur hingga meluber keluar ruangan rumah.

Eman bulan yang lalu, warga setempat  beserta Pemerintahan Desa Ramasari, pernah membereskan pakaian, kain dan plastik yang memenuhi ruangan rumahnya. Kemudian disortir dan dibakar. Karena selain sudah berjamur juga sudah banyak yang lapuk.

Ternyata sekarang itu, ruangan tengah rumah milik keluarga Bakri sudah penuh lagi dengan tumpukan kain, pakaian dan sampah plastik.  Selain itu, nasi, makanan lain yang sudah basi tidak layak, masih dikonsumsi layaknya makanan masih segar.

Melihat keadaan demikian, tentu saja membuat kaget seluruh warga setempat. Karena itu, banyak yang menyebut Bakri sekelurga menderita ganguan jiwa. “Hal itu tentu saja membuat prihatin semua pihak,” ucap Hana (38) warga setempat.

Sementara itu, Kepala Desa Ramasari Agus Sumarna membenarkan, Bakri beserta keluarga mendiami rumah yang tidak layak huni yang berlokasi di tengah pesawahan. Juga di malam hari tidak menggunakan penerangan apa pun.

Upaya untuk merenovasi bangunan rumah dan membereskan tumpukan pakaian, kain dan sampah plastik yang menumpuk di tengah dan diluar rumah telah dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat setempat. Namun nyatanya sekarang sudah penuh lagi dengan kain dan sampah plastik di dalam dan di luar rumahnya.

Karena itu, Kades Ramasari akan berupaya mencari solusi yang terbaik. Menurutnya, tidak hanya direnovasi atu dibangun rumahnya saja, tapi jiwanya juga harus obati dengan cara serius. “ Hingga sembuh dan tidak mengangkut pakaian butut pemberian orang lain yang akhirnya bukan dipakai melainkan hanya ditumpuk di dalam rumah,” kata Agus.

Dilain pihak, Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) Kabupaten Cianjur, Rukman didampingi Verawati menjelaskan, kalau dilihat secara kasat mata, gerek gerik dan pembicaraanya, Bakri dan Aisah itu diduga tergolong katagori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Sedangkan anak, Jujun tergolong ediot. Untuk lebih pastinya lagi perlu adanya hasil diagnosa dari pihak kesehatan termasuk Kesehatan Jiwa (Keswa) dari Puskesmas terdekat.

Untuk itu, perlu adanya upaya penanganan pengobatan dengan serius. Supaya sembuh dari penyakit kejiwaannya. Pihaknya bersedia untuk membawanya ke panti rehabilitasi jiwa untuk diobati. “ Asal ada persetujuan dari pihak keluarga, pihak pemerintahan desa dan pihak Muspika Haurwangi, supaya proses pengobatannya lancar,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here