Bah Entis bersama istri dan cucunya, saat ditemui awak media

Liputan : Shandi 

Cianjur, metropuncaknews.com – Miris, sebuah gubuk berukuran 3X4 meter dan jauh dari kata layak, berdiri di Kampung Datarkubang RT 03/06 Desa Naringgul, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Gubuk yang sangat-sangat sederhana itu, kini menjadi tempat tinggal Bah Entis (71) beserta istri dan cucunya.

Bukan sekedar tempat berteduh saja, gubuk reyot yang berukuran 3X4 meter itu, berdinding bilik yang sudah lapuk dan bolong-bolong. Atapnya asbes, itu pun dipinjamkan kepadanya sebagai tempat tinggal. Pendek kata, gubuk itu benar-benar tidak layak dihuni oleh manusia. Terlebih gubuk tersebut belum ada aliran listriknya. Hal tersebut menandakan, fakir miskin dan anak terlantar belum dipelihara oleh negara sesuai Undang-Undang pasal 34 ayat 1.

Penderitaan Bah Entis tidak hanya sampai disitu saja. Kedua matanya kini tidak bisa melihat karena katarak sejak dua tahun yang lalu. Sehingga Bah Entis tidak bisa bekerja, sementara untuk biaya hidup sehari-harinya, hanya mengandalkan pemberian dari anaknya yang bekerja diluar kota.

Ironisnya, dalam keadaan yang begitu parah, satu keluarga tersebut belum pernah mendapatkan bantuan sejak dulu. Baik dari pemerintah daerah maupun pusat.

Diakui Bah Entis, dirinya beserta istri dan cucunya sudah hampir delapan tahun menempati gubuk itu.

” Kami menempati gubuk reyot milik orang lain ini sudah hampir delapan tahun. Semenjak kedua mata Abah tidak bisa melihat, sehingga Abah tidak bisa bekerja untuk menafkahi anak istri Abah, kalau untuk makan sehari hari, alahamdulilah kami suka mendapat bantuan beras miskin (raskin) dan makanan pemberian tetangga,” katanya.

Bah Entis, dulunya pernah menjadi anggota Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR)/tentara veteran. Namun tidak memiliki dana pensiunan dihari tua.

” Bukanya abah meminta imbalan, tetapi sedikit banyaknya pernah menyumbangkan jasa untuk membantu kemerdekan Negara Republik

Indonesia ini dan anehnya lagi, Abah belum pernah mendapatkan bantuan berupa bangunan (Rumah) yang dari pemerintah,”  kata dia.

Abah berharap, memliki rumah yang layak huni seperti orang lain. Selain itu, ingin kedua mata Abah bisa melihat kembali, supaya  bisa bekerja menafkahi anak istri dan cucu. Tapi apalah daya, Abah enggak punya apa-apa. “ Entong ning jang ngabangun imah (jangankan membangun rumah-red) dan berobat mata, buat makan saja susah,” ungkap Abah dengan nada penuh sendu.

Ditemui ditempat yang berbeda, Idam Heli (38) Ketua RW 06 Kampung Datarkubang, membenarkan  dilingkungan keRWnya ada warga yang tinggal di gubuk tidak layak huni serta kedua matanya tidak bisa melihat, Kamis (18/7).

” Ya, kami sudah pernah mengajukan bantuan melalui Desa Naringgul, tapi sampai saat ini belum ada realisasinya, baik bantuan untuk pembangunan rumah dan pengobatan kedua mata Bah Entis, tapi kalau untuk bantuan makan, Abah suka mendapat bantuan beras Rasta/Raskin setiap datang beras. Gubuk yang sekarang Bah Entis tempati, itu pun tanahnya dari bantuan masyarakat setempat, sementara bahan-bahan bangunannya dari pribadi saya sendiri,” kata Idam.

Menurut Idam, kalau dulu Bah Entis terkendala dengan surat surat kependudukan KTP dan Kartu Keluarga. Tapi kalau sekarang Abah sudah mempunyai persyaratan baik KTP mau pun Kartu Keluarga.

“ Semoga saja dengan sudah lengkapnya persayaratan, Abah bisa mendapatkan bantuan, baik dari pemerintah mau pun dari dermawan,” jelas Idam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here