Ayat dan keluarga yang membutuhkan bantuan para dermawan

Laporan : Shandi 

Cianjur, metropuncaknews.com – Meski berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mensejahterakan warganya, namun kenyataannya masih ada warga yang hidup memprihatinkan. Salas satunya aadalah pasangan suami istri (pasutri) Ayat (54) dan Atin, warga Kampung Ciguha RT 01/08, Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan, Jawa Barat.

Ayat yang kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan. Tentunya, penghasilannya pun tak jelas. Sehingga tak mampu melanjutkan sekolah anaknya. Alasannya karena keterbatasan biaya. “ Jangankan untuk biaya sekolah dan lain-lain, untuk makan saja, susah, kadang saya dan anak istri saya harus puasa,” akunya dengan suara parau menahan tangis.

Mirisnya lagi, selama puluhan tahun mereka tinggal di gubuk reyot berukuran 3×4 meter yang hampir ambruk. Itu pun gubuk milik orang lain. Gubuk yang dihuninya itu, tidak memiliki penerangan, dapur dan kamar mandi serta tidurnya pun hanya beralaskan sehelai tikar.

Berdasarkan hasil pantuan awak media di gubuk Ayat ditemukan dinding dan atap rumahnya yang terbuat dari bambu sudah pada bolong. Sehingga ketika hujan turun, mereka pasti kehujanan. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan dan menanti datangnya dermawan yang rela membantunya.

Menurut Ayat, selama sepuluh tahun ia dan keluarganya menempati gubuk reyot itu, belum pernah ada bantuan dari pemerintah untuk pembangunan Rutilahu.

” Selama sepuluh tahun saya menempati gubuk ini, belum pernah mendapatkan bantuan listrik desa (lisdes) apalagi Rutilahu, atau yang lainnya, mungkin karena ini milik orang lain (pinjam), sehingga tak sedikit pun dilirik pemerintah,” kata Ayat saat ditemui awak media, Sabtu (15/12).

Kendati demikian, Ayat tetap bersyukur meski kehidupannya serba morat-marit.. Mungkin ini sudah takdir tuhan yang menuliskan kehidupan Ayat seperti ini. Ayat pun sangat mensyukuri,  saat dapat bantuan PKH dan Beras Sejahtera (Rastra). “ Walaupun terkadang saya bingung darimana uang untuk menebus rastra tersebut,” kata Ayat seraya menyeka air matanya.

Sementara, Abah Ogin tetangga Ayat membenarkan, Ayat dan keluarganya sudah hampir sepuluh tahun diberi pinjam gubuk reyot itu untuk dijadikan tempat tinggalnya oleh seorang warga yang peduli pada keluarga Ayat.

Ogin mengatakan, sungguh prihatin melihat kehidupan keluarga Ayat. Diusia rentanya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan membangun rumah dan menyekolahkan anaknya, untuk nebus Rastra dan biaya sehari-hari saja mereka sudah kelimpungan.

“ Mendengar mereka tak makan buat saya itu hal biasa, karena saya tahu persis kehidupannya seperti apa, adapun yang bisa saya kasih itu hanya alakadarnya saja,” ungkap Ogin.

Selanjutnya Ogin mengharapkan, pemerintah setempat lebih peka terhadap warga yang benar-benar miskin. Karena jelas-jelas mereka sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan.

Melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan sungguh patut dipertanyakan, kemana peran aktif pemerintah setempat selama ini, yang seolah menutup mata.

Hal lain ditemukan awak media dari pengakuan warga yang mengatakan, untuk mendapatkan bantuan listrik desa, harus ada keterangan dari desa dan membayar Rp.  300.000, – (tiga ratus ribu rupiah). Maka dari itu sangatlah wajar Ayat tak dapat bantua lisdes itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here