Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Adalah kakek Sarna (70), seorang pria paruh baya yang tinggal di gubuk reyot di Kampung Sukaresmi RT. 02/09 Desa Sukabakti Kecamatan Naringgul Cianjur Selatan Jawa Barat.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Kakek Sarna berprofesi sebagai pembuat cobek (tempat membuat sambal) dari kayu.

Menurut informasi, Kakek Sarna sudah bertahun-tahun tinggal di gubuk reyotnya yang berukuran 2.5X3 meter tanpa penerangan cahaya listrik. Ia tinggal bersama putrinya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Diusianya yang sudah renta, Kakek Sarna terus berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup dan membiayai anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ironisnya lagi, meski jelas-jelas Kakek Sarna adalah jompo yang hidup dibawah garis kemiskinan, namun ia tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Baikitu dari  Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Ditengah ramainya dunia bergelut dengan pandemi virus Covid-19, Kakek Sarna tetap berjuang terus membuat cobek untuk dijualnya demi bertahan hidup dengan semangatnya tanpa ada rasa takut.

Saat ditemui awak media, Rabu (22/04), Kakek Sarna bercerita tentang dirinya bertahan hidup dengan menjadi pengrajin cobek yang sudah menahun sejak di tinggal istrinya meninggal dunia.

” Harus bagaimana lagi, kakek sudah tua dan kaki pun sudah tidak kuat lagi kalau menjadi pekerja berat seperti orang lain. Saat ini kakek hanya diam di saung lapuk dengan genteng pada bocor, dingin malam pun kerap kali kakek rasakan bersama anak kakek,” keluhnya.

Kakek Sarna melanjutkan, tinggal di gubul reyot sambil mengasah keahliannya membuat cobek untuk dijual yang hanya Rp. 15 ribu, demi bertahan hidup. Terkadang dirinya pun mengeluh lantaran tak ada pembeli dan pulang dengan tangan hampa.

” Biasanya dibeli orang sekitar kampung sini pak, tapi kalau musim liburan suka ada yang datang dari Bandung. Namun setelah adanya pandemi Covid-19, sekarang yang beli enggak ada,” ungkap Kakek Sarna dengan mata berkaca-kaca.

Ungkapan keperihatinan pun muncul dari Ketua RW 09 Dace Setiawan, yang mengetahui persis seperti apa kehidupan Kakek Sarna.

Dace menyebutkan, kalau melihat kondisi kehidupan Kakek Sarna yang sebenarnya, semua pasti terhenyak melihatnya. Dace mengaku sudah berupaya mengajukan rutilahu ke pihak pemerintah desa.

 “ Namun terkendala dengan persyaratan administrasi dan tidak punya tanah sendiri maka program tersebut tidak didapatnya,” ujar Dace.

Dace menjelaskan, gubuk reyot yang ditempati Kakek Sarna itu juga hasil rereongan masyarakat dengan cara gotong royong.

Menurut Dace, rumah yang layak huni untuk Kakek Sarna sebenarnya bisa dibangunkan oleh warga secara swadaya. Hanya kendalanya, tak ada sanak saudara atau tetangganya yang meminjamkan tanah untuk tempat tinggal Kakek Sarna. Karena itulah, Kakek Sarna hingga kini harus rela tinggal digubuk reyot yang benar-benar tidak layak huni. “ Kakek Sarna bersama anaknya tidak punya tempat tinggal yang layak, bahkan untuk makan pun tak jarang diberi oleh tetangganya. Atas nama masayarakat, saya berharap semoga Kakek Sarna mendapat bantuan baik dari pemerintah ataupun dari para dermawan,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here