Petugas Disnakertrans saat menyerahkan jenazah Ani disaksikan pejabat Muspika setempat

Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Menindak lanjuti pemberitaan ‘Ani binti Iin seorang Tenaga Kerja Wanita Indonesia yang meninggal dunia di Yordania, Senin (5/8) lalu’. Pihak keluarga belum tahu persis penyebab meninggalnya pejuang rupiah itu. Karena selama ini baru mengetahui kemaian Ani melalui pesan WhatsApp dari Disnakertrans Kabupaten Cianjur, Jum’at (9/8) lalu.

Setelah melalui serangkaian proses semua pihak, baik pemerintah melalui dinas terkait juga pihak kuasa hukum dari lembaga Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya (Astakira). akhirnya, jenazah almarhumah Ani binti Iin, tiba di rumah orang tuanya di Kampung Cidalung RT 07/03, Desa Wangunsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Sabtu (31/8) dini hari sekira pukul 01.00 WIB.

Informasi yang dihimpun awak media, dikediaman orang tua almarhumah, nampak hadir Muspika Naringgul. Yaitu Camat, Kapolsek, Danposmil, pemerintah desa dan warga setempat, menyambut kedatangan jenazah bersama Kabid Dinaskertnas Cianjur dan Ketua Lembaga Astakira.

Saat mengantarkan jenazah almarhum Ani binti Iin, Ketua Astakira Pembaharuan Cianjur, Ali Hildan, mengatakan, pihaknya masih menanti surat keterangan kematian. Karena sampai saat ini, belum ada kejelasan dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Amman Yordania mengenai penyebab kematian yang jelas. Bahkan ketua Astakira itu pernah menelusuri kabar kematian ke BP3TKI Jabar.

” Kebetulan, Senin lalu kami ke BP3TKI Jabar, mengajak keluarga Ani ke Bandung, barangkali ada informasi resmi, dan ternyata pihak BP3TKI Jabar pun belum mengetahuinya,” kata Ali.

Kemudian pada tanggal 13 Agustus, Astakira bersama keluarga juga datang ke Disnakertrans Kabupaten Cianjur, untuk menanyakan hal serupa dan ternyata belum ada berita acara.

” Keluarga hanya menerima kabar melalui pesan WhatsApp dari Disnakertrans yang isinya dihapus kembali,” kata Ali.

Pihak keluarga pernah memperlihatkan pesan WhatsApp yang isinya ada 13 poin, tentang kronologis kematian Ani. Poin yang diingat keluarga adalah Ani meninggal di depan gedung ditemukan polisi dibawa ke rumah sakit.

“Almarhum tidak punya majikan, namun ada kejanggalan, Ani punya kenalan dengan orang Mesir dan ditemukan meninggal setelah tiga hari keluar dari rumah orang Mesir tersebut,” katanya.

Upaya Ali membantu kepulangan almarhumah,  karena pihak keluarga menginginkan jenazah Ani itu dibawa ke tanah air. 

” Ya, sejak keberangkatannya pada tahun 2011, almarhumah lost contacts selama delapan tahun. Sebagai kuasa dari keluarga almarhumah, saya menginginkan penjelasan penyebab kematiannya. Karena selama ini, tak ada surat resmi yang dikirimkan, dan hanya mendapat informasi melalui pesan WhatsApp yang diduga overdosis obat,” terangnya.

Menurutnya, pemerintah harus bisa melacak, karena pihaknya yakin almarhumah memiliki majikan. Sebab sudah bekerja selama delapan tahun di sana.

“Jelas ini sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mengusut tuntas termasuk hak-haknya. Saya meminta, agar KBRI mengusut tuntas,” ujarnya.

Sementara itu kabid Disnakertrans Kabupaten Cianjur, Ricky Ardhi menjelaskan, awalnya, pihaknya mengetahui ada salah seorang TKI, yang bekerja di Yordania meninggal dunia, dari informasi pesan WhatsApp salah seorang staf Adnaker KBRI Amman Yordania pada tanggal 9 Agustus 2019.

” Berdasarkan hasil forensik, dari pihak KBRI Yordania, tidak di ditemukan adanya bekas-bekas penganiyayaan dan kekerasan, melainkan yang bersangkutan sakit dan minum obat, sehingga diduga akibat kelebihan dosis (overdosis), infonya seperti itu,” ujar Ricky.

Lanjutnya, adapun biaya kepulangan almarhumah, ditanggung sepenuhnya oleh pihak KBRI Amman Yordania.

” Sebelumnya memang agak kesulitan untuk memulangkan almarhumah Ani, karena posisi yang bersangkutan tidak memiliki majikan dan pihak PTnya pun tidak jelas, sehingga tidak bisa diklemkan. Kemudian pihak KBRI berkoordinasi dengan Kemlu, supaya bisa membantu pemulangannya, selain itu kami juga berkordinasi dengan BNP2TKI, untuk meminta bantuan pemulangan dari bandara, dan akhirnya jenazah bisa dipulangkan,” terangnya.

Lebih lanjut lagi, informasi yang diterimanya dari pihak KBRI, yang bersangkutan berangkat kerja dari tahun 2010, sempat memiliki majikan sekitar dua bulan, dan selanjutnya bekerja serabutan diluar tanpa memiliki majikan. Nah, sewaktu meninggalnya juga berada dirumah kontrakan temannya (orang mesir) dan yang melaporkan kematiannya pun orang mesir itu.

“Adapun kaitan dengan informasi dari KBRI, ada beberapa barang milik almarhumah yang masih tertinggal dan kini masih disimpan di mahkamah zarka. Dan hak-hak yang lainya, pihak KBRI masih menelusuri dan melancaknya, apabila nanti ada perkembangan dari pihak KBRI, akan kami informasikan kembali,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here