Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Semenjak ditinggal suaminya meninggal dunia, kehidupan Aminah (50) beserta tiga anaknya yang tinggal di Kampung Cidamar RT 03/08 Desa Bobojong Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur Jawa Barat, sangat memprihatinkan.

Ibu tiga orang anak itu, kini tinggal di rumah beratapkan langit beralaskan tanah. Posisi rumahnya terletak paling ujung berbatasan langsung dengan kebun bambu. Jauh dari pemukiman penduduk.

Dengan menjadi buruh tani, Amanah mengaku tidak mungkin bisa membangun rumah yang layak huni. Terlebih anak-anaknya ada yang masih duduk di bangku sekolah.

” Jangankan melanjutkan untuk membangun rumah, sudah empat tahun ini, kami sering merasakan kehujanan dan kepanasan. Jika angin bertiup kencang dan menyibak terpal yang menutup bagian atas rumah. “ Untuk membantu mencari nafkah hidup pun, anak saya terpaksa harus putus sekolah untuk membantu saya mencari makan,” ucap Aminah seraya meneteskan air matanya.

Anak kedua Aminah, Purwadi (18) mengatakan, dirinya rela putus sekolah demi membantu ibunya mencari nafkah dan menambah sedikit-sedikit biaya adiknya bernama Dita (14) yang masih sekolah.

” Saya nggak tega melihat ibu saya berjuang sendiri demi menghidupi kami. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti sekolah dan menjadi kuli bangunan untuk menambah bekal/biaya hidup keluarga kami,” kata Purwadi.

Sebenarnya Purwadi mempunyai mimpi besar. Yaitu berkeinginan menyelesaikan pembangunan rumahnya. Namun dengan menjadi kuli bangunan rasanya tak cukup.

” Dengan seperti sekarang ini bisa makan saja alhamdulillah. Impian menyelesaikan rumah pun saya kesampingkan dulu, karena ada yang lebih penting yaitu saya ingin adik saya bisa terus sekolah tidak seperti saya,” ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Purwadi juga mengatakan, listrik yang telah dipasang di rumah yang tak beratap itu, ia bungkus menggunakan pelastik. Karena khawatir kalau hujan, kabel atau sakelar meteran terkena air hujan. Sehingga mengakibatkan terjadinya konsleting listrik.

” Kabel dan sakelar saya bungkus pake pelastik, supaya kabel utamaya tidak terkena  air hujan yang bisa menyebabkan konsleting listrik,” pungkasnya.

Kondisi rumah keluarga Aminah, sebetulnya sudah diketahui warga. Bahkan sudah diajukan ke pihak-pihak terkait supaya mendapatkan bantuan penbangunan rumah tidak layak huni.

” Kalau yang poto-poto dan tanya-tanya, sejak empat tahu yang lalu itu sudah ada, tapi hingga saat ini kondisi rumahnya masih begitu-begitu saja,” kata Ujang Ketua RW setempat.

Diharapkannya dengan diterbitkannya berita ini,  ada para dermawan yang sudi menyisihkan  sebagian hartanya untuk membantu keluarga Aminah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here