Siswa-siswi Asasuttarbiyah

Laporan : Andri Sutisna

Cianjur, metropuncaknews.com – Pemanfaatan sampah di Pondok Pesantren Asasuttarbiyah Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur ini memang terbilang baru. Sampah yang biasa dianggap tidak berharga, tetapi di Pontren ini sampah menjadi pengganti rupiah para murid ataupun santri yang menimba ilmu di Pontren ini.

Para orang tua siswa tidak lagi diminta biaya untuk kelancaran pendidikan anak mereka, namun mereka diharuskan membawa sampah anorganik untuk pengganti biaya pendidikannya. Program yang digagas Inan Isnandar.S.Ag ini cukup sangat membatu mereka yang menuntut ilmu di pondoknya.

Saat awak media mengunjungi Pondok Pesantren Asasuttarbiyah di Kampung Ciangsana Desa Mande, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, nampak gundukan sampah anorganik yang disimpan di tempat terpisah itu benar adanya.

Alim Haris, salah seorang santri di Pontren tersebut mengatakan, sebagai santri dan juga murid di Pontren Asasuttarbiyah, dirinya sangat merasa senang dan bangga bisa jadi murid dan juga santri Asasuttarbiyah.

“ Karena sekolah dan sekaligus mondok disini, tidak terlalu memberatkan orang tua, infaq sampah yang kita kumpulkan setiap 2 minggu sekali, menjadi pengganti biaya pendidikan kami, dan 2,5 kg botol minuman plastik sering saya bawa untuk kelancaran pendidikan kami” ujar Alim.

Sementara Pimpinan Pesantren Asasutarbiyah Inan Ianandar.S.Ag, dalam wawancaranya dengan metropuncaknews.com membenarkan, sampah sebagai alat bayar pendidikan di Pontren yang dipimpinnya. Inan mengatakan, program sampah di Pondok ini memang benar adalah gagasnya.

Selanjutnya Inan mengatakan, hal itu dilakukan, karena ia  menginginkan siswa-siswi maupun santri-santriwati yang belajar di Asasuttarbiyah  tidak terlalu terbebani dengan masalah biaya.

“ Terlebih dana BOS kan tidak masuk ke pondok pesantren, beda dengan sekolah negeri, jadi kami memutar otak dan terbentuklah program ini, ya meskipun masih coba-coba tetapi sudah berjalan dan alhamdulilah sangat membantu mereka,” jelasnya.

Inan Isnandar menegaskan, anak-anak yang sekolah disini jangan merasa malu kalau  nanti ada yang menybut santri sampah.  Justru harus bangga. Karena bisa sekolah atau nyantri walaupun bayarannya pakai sampah.

Ditanya tentang jumlah siswa-siswi yang belajar dan mondok di Pontren Asasuttarbiyah, Inan menyebutkan, jumlah siswa Tsanawiyah ada 135 murid. Untuk murid  Aliyah ada 80 murid. Sedangkan yang mondok ada 25 santri.

“ Bagi siapapun yang ingin menyumbangkan atau membantu pembiayaan sekolah mereka, para donatur bisa mendonasikan barang yang tidak terpakai ke alamat sekolah di Kampung Ciangsana RT 02/01 Desa Mande Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here