Pembangunan SMP 8 Naringgul seakan terhenti setelah adanya OTT terhadap Bupati dan Kadisdik Cianjuryang dilakukan KPK

Laporan : Shandi/R Dani

Cianjur, metropuncaknews.com – Harapan dan impian untuk dapat Ruang Kelas Baru (RKB) di SMP 8 Naringgul, Cianjur Selatan, jadi bias. Padahal sekolah tersebut sudah mendapatkan bantuan Dana Anggaran  Khusus (DAK) pendidikan Tahun 2018 untuk pembangunannya.

Sebelumnya 126 murid, enam guru honorer dan satu PNS (Kepala sekolah),  sangat optimis bakal dapat kucuran dana dari pemerintah untuk pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di sekolah tersebut.

Namun, pada kenyataannya belakangan ini setelah mendengar adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Cianjur IRM, Kadisdik CS, Kabid SMP Ros dan TCS terkait dugaan pemangkasan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk SMP.

Dampak kejadian itu, jelas yang menjadi  korban adalah murid SMP 8 Naringgul. Karena seharusnya mereka bisa menikmati dan mengenyam pendidikan yang selayaknya di ruang kelas yang baru.

Kini dalam kesehariannya, mereka hanya menjadi penonton pembangunan gedung sekolah yang mangkrak. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab?

“Sebagai masyarakat yang peduli dunia pendidikan, mari kedepan bersama-sama, cegah apapun jenis praktek kotor pungutan yang mengatas namakan pimpinan,” ujar salah seorang wali murid.

Dilansir dari pemberitaan metromedianews (16/12) kemarin, berdasarkan hasil penelusuran dilapangan, dari jumlah 140 sekolah SMP di kabupaten Cianjur yang mendapatkan bantuan DAK, salah satunya adalah SMP 8 Naringgul.

Aapakah uang anggarannya habis berkaitan dengan adanya dugaan uang penyetoran ke sekolompok oknum Disdik Kabupaten Cianjur yang  terkena OTT  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (12/12). Dengan Alat bukti tumpukan uang sekardus yang berjumlah 1,5 miliar kemarin ?’.

Saat dimintai keterangan Komite Sekolah Ujang Rusmana (43), Sabtu (15/12) menjelaskan, SMP 8 mendapatkan bantuan dari DAK untuk bangunan 2 RKB, dengan total anggaran sebesar Rp. 230 juta. Menurut informasi,  dananya sudah turun semua untuk pengerjaan tahap tiga. Tapi uangnya belum keterima, padahal proses pengerjaanya sudah masuk tahap akhir

Menurut Ujang, dari jumlah Rp. 230 juta yang  keterima hanya sebesar Rp. 170 juta saja. Yah harus gimana lagi, kan itu sudah aturan dari atasan. “ Nah, untuk sementara saya pakai dana talang (uang pribadi dulu), yang saya bingung saat ini kan matrial pada  naik, sementara dananya belum keterima juga, atau jangan-jangan  benar uangnya disunat  oleh oknum-oknum itu, ” kata Ujang Rusmana.

Lebih lanjut Ujang mengatakan, pihaknya dan masyarakat Cianjur turut perihatin dengan ditangkapnya Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Cianjur. Aapalagi kaitannya dengan  dana bantuan anggaran DAK untuk pembangunan sekolah yang dengar-dengar dipotong untuk setor ke kepala daerah.

“ Kalau memang benar kasusnya seperti itu, bukannya memberi contoh yang baik, tetapi malah mencoreng nama baik,’ pungkasnya.

Melihat dan mendengar seperti itu, orangtua/wali murid, merasa salut dengan adanya OTT oleh KPK di Cianjur.

Sebelumnya memang sempat ada kecurigaan dengan proses pembangunan ruangan kelas yang mangkrak itu. Namun karena ketidak tahuannya pada siapa mereka harus menanyakan hal itu dan akhirnya diam saja.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kecurigaan warga pun terjawab. Walaupun dalam hati kecilnya, tak sedikit pun menyangka hal itu terjadi di Cianjur. Tapi apalah daya ‘nasi sudah menjadi bubur’, warga hanya meminta yang terbaik untuk kelangsungan dunia pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here