Laporan: Sam/Iriyanto

Cianjur, metropuncaknews.com – Gedung SMP Negeri 1 Haurwangi di Kampung Raksabala. Tepatnya di belakang Kantor Desa Ramasari Kacamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur, bagian atapnya dihuni grombolan kelelawar.

Ironisnya, geromnolan kelelawar tersebut, jumlahnya tidak bisa dihitung. Banyak yang menduga, jumlah kelelawar yang bersarang di geduang SMP Negeri 1 Haurwangi itu, jumlahnya mencapai ratusan ribuan ekor. Setiap petang, kelelawar itu keluar dari sarangnya melalui lubang angin atap bangunan gedung SMPN, terutama dari atap bangunan ruang Kepala Sekolah dan guru.

Salah seorang tokoh masyarakat, juga sebagai pemerhati pendidikan Kecamatan Haurwangi, Endang Kohar Efendi (55) mengatakan, kelelawar itu berada di atap bangunan Laboratorium dan sebagian di atap ruangan kelas SMP Negeri 1 Haurwangi. Hal itu terjadi sejak dulu. Namun gerombolan kelelawar itu jumlahya tidak banyak. Biasa saja tidak sebanyak yang sekarang dilihat.

Menurut Endang Kohar, jumlah kelelawar yang bersarang di SMP Negeri 1 Haurwangi, sulit untuk dihitung. Karena bila sudah keluar dari sarangangnya pada petang hari, terlihat banyak sekali. Gerombolan kelelawar itu jika ke luar dari sarangnya, cukup lama hampir mencapai 1sampai 2 jam. ” Biasanya keluar mulai pada pukul 17.00 WIB sampai sekira pukul 18.30 WIB, hingga tiap kelelawar keluar jadi tontonan warga sekitar,” kata Endang Kohar.  

Endang Kohar menyebutkan, diduga kuat hal itu terjadi selain akibat tidak adanya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah. Ditambah sejak dulu ketika masih ada bangunan jaman penjajahan Belanda, telah dijadikan tempat bersarangnya kelelawar dan burung kecil. Tapi tidak sebanyak yang sekarang ini.

Mungkin fenomena tersebut, sekarang terulang kembali. Tapi sekarang gerombolan kelelawarnya cukup banyak. “ Hingga ketika terbang keluar mencari makanan, terlihat seperti awan hitam pekat yang berjalan dengan cepat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Haurwangi, Emod, S.Pd mengatakan, memang benar diatas bangunan ruangan Laboratorium dan kelas dijadikan sarang puluhan ribu kelelawar. Karena itu, para guru setiap harinya harus rela menghirup bau kotoran kelelawar.

Padahal sambung Emod, upaya pengusiran sering dilakukan. Baik disemprot dengan pestisida, diasao dan dengan diusir secara spiritual telah dilakukan. Namun setelah hilang beberapa hari datang lagi. Apalagi sekarang gerombolan kelelawarnya semakin banyak. “ Adanya grombolan kelelawar diatap bangunan ruangan laboratorium dan ruang kelas itu sangat mengganggu kenyamanan bekerja, karena selain bau tak sedap juga takut ambruk seketika, karena atapnya penuh dengan kotoran kelelawar,” ujar Emod.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here