Acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2019. Kegiatan tersebut digelar di aula Pondok Pesantren Gelar

Laporan: Shandi

Cianjur, metropuncaknews.com –  Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)    bersama DLH  Kabupaten Cianjur, aktivis, tokoh ulama dan ratusan relawan lingkungan hidup, peringati  Hari Peduli Sampah Nasional 2019. Kegiatan tersebut digelar di aula Pondok Pesantren Gelar, Minggu (31/3).

Adapun yang menjadi tema perayaan tersebut yaitu, ‘Kelola Sampah Untuk Hidup Bersih dan Bernilai’.

Berbagai materi yang mengedukasi cara penyelamatan lingkungan di sampaikan nara sumber. Mulai dari seniman  dan budayawan serta tutor yang terdiri dari Dinas LH Kabupaten Cianjur, peraih  Kalpataru Limbah dan aktivis lingkungan hidup.

Sebagai pemateri, peraih Kalpataru Limbah asal Cianjur H. Andi Limbah mengatakan, dengan system rekayasa atau mengoIah dan memanfaatkan bahan limbah domestik. Caranya sebelum menbuangnya ke TPS, TPA, sungai atau laut masyarakat harus bisa memilih dan memilah antara organik dan non organik.

” Dari berbagai jenis limbah sebetulnya dapat digunakan dan dimanfaaatkan kembali, dengan catatan kita mau mengolahnya (daur ulang). Nah, dari limbah-limbah itu kita bisa merubahnya menjadi benda-benda yang memiliki nilai jual sehingga bisa meningkatkan perekonomian,” papar H. Andi Limbah pada acara Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019.

Lanjut H. Andi, pada dasarnya system yang dikembangkan dalam inovasi rekayasa limbah domestik ini adalah system kreasi, dikreasikan atau dipadukan. Seperti misalnya teknis rekayasa dapat dengan berbagai cara. Tapi tergantung jenis, ukuran, karakter, kandungan, kekuatan, bentuk dan jumlah limbah yang ada disekitar kita. “ Kemudian kita olah sehingga mempunyai nilai seni dan karya artistik dari limbah tersebut,” pungkasnya.

Sementara Wakil Ketua Gerakan Resik Nusantara (GRN) Acep memaparkan, sampah organik adalah limbah yang dihasilkan dari tumbuhan dan hewani yang ada disekitar kita.

” Sampah organik bersifat mudah terurai secara alamiah oleh mikro organisme, seperti bakterisida atau oleh fungisida. Namun untuk lebih bermanpaat dan produktif limbah harus diproses dulu melalui beberapa tahapan yang nantinya berguna sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan,” ucapnya.

Masih dikatakan Acep, sebagian masyarakat mungkin sudah mengetahui proses dengan cara pengomposan kering dan basah. Proses itu dilakukan dengan cara menghaluskan terlebih dahulu lalu dituangkan dalam tong plastik disesuaikan kebutuhan dan tertutup. Setelah itu bahan organik tersebut ditambah air, gula merah, dan yang paling penting adalah ditambah unsur pengurainya. Yaitu bakteri/fungisida.

Untuk bakteri bisa didapatkan hasil olahan pabrikan yang dijual di toko pertanian atau bisa juga membuatnya sendiri. “ Proses selanjutnya dipermentasi dalam tong yang tertutup, sekurang-kurangnya  dua minggu sudah dapat digunakan sebagai pupuk,” jelasnya.

Ditemui seusai kegiatan, Kepala Penegakan Hukum (Gakkum) Dinas LH   Kabupaten Cianjur Tedi Iskandar mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi berbagai kegiatan pemerintah pusat khususnya Dirjen PSLB3 LHK yang terus mendorong peran serta kemandirian masyarakat dalam mengurangi persoalan sampah.

” Dalam momentun rangkaian Hari Peduli Sampah Nasional 2019 ini, diharapkan menjadi agenda yang memotivasi masyarakat Cianjur dan lingkungan sekitar ponpes untuk menyelesaikan masalah sampah dari sumbernya,” kata Tedi.

Ia berharap Ponpes dan lingkungan sekitarnya dapat mendorong gerakan memilah sampah yang menjadikan lingkungan bersih dan bernilai. “ Caranya, melalui sosialisasi edukasi pemilahan sampah ini karena diyakini akan memotivasi dan melahirkan ide kreatifitas menjadikan sampah menjadi bernilai dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Cianjur,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here