Laporan : Shandi 

Cianjur, metropuncaknews.com – Sudah bukan rahasia lagi, para pelaku sek bebas sesama jenis, kini berani menampakan diri dihadapan publik. Hal tersebut jelas mengancam generasi yang akan datang. Karena itu, setiap orang tua harus berperan aktif mengawasi anaknya dalam bergaul, baik dilingkungan masyarakat mau pun sekolah.

Untuk menggali dan mencari informasi lebih jauh lagi mengenai masalah Lesbian, Guy, Bisek dan Transgender (LGBT), sejumlah awak media menghubungi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, Jumat (12/10)

Alhasil, Dinkes Kabupaten Cianjur angkat bicara bahkan sekaligus membocorkan, kalau untuk HIV/AIDS memang ada sekitar 900 orang. Secara kumulatif dari tahun 2001. Tapi kalau untuk Gay yang menggarapnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Tjitjih Kurniasih pengelola program HIV/AIDS atau Konselor HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, mengatakan, pihaknya tidak tahu persis. Tapi sepertinya tidak sampai 300 ribu juga. “ Itu banyak banget, makanya nanti mau konfirmasi lagi ke LSM, ada tidak orangnya segitu,” tutur Tjitjih.

Lebih lanjut Tjitjih mengatakan, pihak Dinkes akan terus melakukan sosialisasi tentang HIV/AIDS dan bahayanya kesemua pelajar. “ Baik itu, SMP, SMA, dan juga mahasiswa,” kata dia saat dihubungi awak media, kemarin.

Pihaknya menyebutkan, kalau faktor yang menyebabkan terjadinya HIV/AIDS, itu karena sering ganti-ganti pasangan, narkoba pengguna jarum suntik, air susu ibu ke anaknya. Karena penularannya hanya melalui cairan darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu.

Sambung Tjitjih, maka itu sekarang diwajibkan kepada semua ibu hamil untuk melakukan test HIV. Ibu hamil yang melakukan test tersebut, bisa menyelamatkan bayinya. Apabila ibunya terkena virus HIV dan itu bisa tertular dari suaminya yang sering bergonta-ganti pasangan atau istri sendiri.

” Jika dulunya pernah melakukan hubungan sex dengan berganti-ganti pasangan,” jelasnya salah satu Konselor HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur ini.

Hal senada diungkapkan Tjitjih, kalau untuk LGBT sendiri bisa macam-macam penyebabnya. Bisa dulunya pernah dia jadi korban asusila. Bisa memang kerena faktor ekonomi dan bisa juga karena lingkungan.

” Sekarang yang banyak terjadi karena lingkungan atau pergaulan teman-temannya,” ujar, Tjitjih.

Selanjutnya Tjitjih menegaskan, Insya Allah bisa sembuh, asal ada kemauan dari sejumlah atau sekelompok Gay sendiri untuk lepas dari pergaulan bebas. Sebagai Gay atau Laki Sex Laki (LSL), dan itu bisa dibantu dengan melibatkan psikiater, hypnotherapy dan keagamaan atau rohaniawan.

” Nah, kalau mengenai soal penyakit HIV atau untuk Gay tidak ada faktor keturunan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here