Tanpa ada hujan, terjadi banjir di Desa Mekarwangu Kecamatan Haurwangi Cianjur, Minggu (20/05)

Liputan : Sam AS

Cianjur,metropuncaknews.com – Saluran irigasi sekunder yang aliran airnya berasal dari saluran irigasi primer Kampung Bobodolan, Desa Ramasari mengalir melewati pemukiman dan pesawahan warga Desa Mekarwangi, Desa Cipeuyeum serta pemukiman dan pesawahan Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi. Namun, diduga karena buruknya pengelolaan irigasi, hingga terjadi banjir. Airnya meluap ke sawah dan pemukiman warga Desa Mekarwangi, Minggu (20/05) sekira pukul 13.30 WIB.

Meluapnya air itu, diduga kuat akibat pengelolaan saluran irigasi kurang profesional dan terkesan asal asalan. Karena saluran irigasi dari hulu terus diperbaiki. Sedangankan saluran yang ada di hilir dibiarkan apa adanya. Hingga kondisi saluran irigasi yang ada di lingkungan Desa Mekarwangi, terkesan dangkal karena tidak dilakukan pengerukan.

Salah seorang  warga Kampung Cipeuyeum, Desa Cipeuyeum, Agus HW (46) mengatakan, tanpa ada hujan turun, ternyata terjadi  banjir. Hal itu terjadi akibat dangkal dan banyak sampah yang mangpet di got jalan lintasan ketera api, Sedangkan air dari hulu cukup besar. Karena kiri kanan saluran dipasang  Tempok Penyangga Tanah (TPT) yang baru selesai dibangun.

Namun sayang pihak pemborong yang sedang mengerjakan penembokan Daerah Irigasi (DI) Cihea dan pihak PSDAP Wilayah  Ciranjang, kurang peduli. Hingga tidak melakukan pengerukan saluran irigasi di Desa Mekarwangi, Cipeuyeum dan Kertamukti. Hingga terjadi banjir yang meluap ke pemukiman warga dan pesawahan warga.

“ Akibatnya, padi yang baru ditanam rusak berat dan warga disibukan membereskan rumah akibat air masuk ke dalam rumah,” ucap Agus pada awak media.

Sementara itu, Kepala Desa Mekarwangi, Cecep Surahman mengatakan, memang benar tanpa turun hujan, saluran irigasi sekunder yang membetang dari Kampung Bobodolan Desa Ramasari  sampai Kampung Cipeuyeum, Desa Kertamukti, Kec Haurwangi, terjadi banjir yang merusak belasan hektar tanaman padi dan airnya masuk ke pemukiman warga.

Menurut Cecep, hal itu terjadi, akibat saluran irihasi sekunder yang ada di hilir sudah dangkal. Selain itu, banyak sampah yang tersumbat di got bawah jembatan kereta api. Padahal saat pemborong menembok saluran irigasi, sempat diberi masukan. Supaya salurannya dikeruk, karena sudah dangkal. Hal itu diberitahukan tidak hanya pada pemborong saja, pada pihak PSDAP wilayah Ciranjang telah diusulkan pula. Namun sayang hal itu tidak pernah digubrisnya, seakan mereka itu cuek bebek.

Cecep mengharapkan, dinas PSDAP Wilayah Ciranjang dan mumpung pihak pemborong masih bekerja pada saluran DI Cihea, mohon saluran sekunder yang sekarang terjadi banjir mohon dikeruk.  “ Seperti saluran irigasi yang ada di Sipon Desa Karangwangi, Kecamata Ciranjang,” kata Cecep Surahman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here