Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas dan tim medis, jenazah korban diserahkan ke keluarga untuk dimakankan

Laporan : Sam AS

Cianjur, metropuncaknews.com – Imat Ruhimat Bin Sobirin (36), warga Kampung Cibanteng RT 02/06 Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur,  ditemukan sudah tak bernyawa, Sabtu (28/04) sekira pukul 14.00  WIB. Imat nekad mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri disalah satu pohon besar di kebun kayu milik warga Kampung Sampora RT04/09, Desa Gunungsari.

Karuan saja ditemukannya Imat Rohimat gantung diri, membuat geger warga setempat. Pasalnya kejadian seperti itu merupakan hal yang langka. Setelah hasil pemeriksaan ahli medis dan hasil olah TKP pihak jajaran Polsek Ciranjang, korban dinyatakan murni bunuh diri juga pihak keluarga korban menolak untuk diautopsi. Hingga saat itu juga jenazah  korban dimakamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari rumah duka.

Informasi yang dapat dihimpun di lapangan, korban gantung diri di pohon besar di kebun kayu milik warga  Kampung Sampora, Desa Gunungsari dengan menggunakan seutas  tambang platik. Korban pertama kali ditemukan, oleh pemuda seiempat yang sedang memburu hama ternak unggas (musang)  dengan menggunakan anjing.

Namun saat anjing pemburu mengejar musang, tiba-tiba membelok ke kanan sambil menggonggong keras. Setelah didekati para pemburu ternyata ada sesosok manusia sedang menggantung di pohon dengan kondisi leher terikat tambang plastik. Kedua kakinya hampir nempel ke tanah, lidah menjulur dan dari lubang hidung keluar darah segar.

Tentuan saja ditemukannya orang gantung diri itu membuat para pemburu kahet. Saat itu pula langsung dilaporkan pada Ketua RT/RW setempat, di kebun kayu ada orang gantung diri.

“ Selanjutnya, Ketua RT/RW pun langsung melaporkannya ke pihak Desa Gunungasri, Babinmas, Babinsa dan Trantib Kecamatan Ciranjang,” kata Rizki Bin Odang warga Kampung Cibateng yang saat itu sedang memburu musang.

Babinsa Desa Gunungsari Serda Dedi Supriadi, didampingi Aiptu Suryaman menjelaskan, pihaknya mengetahui ada korban gantung diri itu, atas laporan dari Trantib Desa dan masyarakat Desa Gunungsari. Saat itu pula pihaknya langsung datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Setelah diyakini bena laporan itu, pihaknya pun langsung melapor pada Polsek, Koramil dan ahli medis dari Puskesmas Ciranjang.

Selang beberapa menit kemudian, Jajaran Polsek Ciranjang, Forensik Polres Cianjur dan ahli medis Bidan Puskesmas Ciranjang, datang bersamaan guna memeriksa korban gantung diri. Berdasarkan hasil olah TKP pihak Inafis Polres Cianjur, Polsek Ciranjang dan hasil pemeriksaan ahli medis Puskesmas Ciranjang, Bidan Santi,  pada jasad korban ditemukan luka dileher diduga akibat jeratan  tambang plastik akibat gantung diri. korban mengeluarkan air seni dan air mani, lidah menjulur keluar, tidak diketemukan luka lain yang mencurigakan dan dinyatakan korban murni bunuh diri.

Selain itu, pihak keluarga minta agar orban tidak diautopsi. Karena kejadian itu sudah merupakan suatu takdir akan kematian dan mengaku, korban pernah memiliki riwayat penyakit Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)  saat usia 9 tahun.

“ Maka setelah adanya keputusan dari pihak keluarga korban, jenazah korban dimakamkan ditempat pemakaman umum yang tak jauh dari rumah korban,” jelas Dedi Supriadi.

Sementara itu, orang tua korban, Sobirin (53) mengatakan, ia tidak menyangka, anak itu akan nekat bunuh diri. Karena tidak pernah ada masalah dengan siapapun. Baik dengan tetangga mau pun dengan keluarga.

Namun baru-baru ini korban sering terlihat duduk sendirian,  jarang ngobrol dengan siapapun dan tidak pernah kehilangan seharipun. Karena tiap pagi korban selalu keluar rumah dan pulang ke rumah sore hari. Kalau tadi, ia terlihat agak aneh, pergi dari rumah agak siang  sekitar pukul 9.00 WIB dan baru sekitar pukuk 14.00 WIB dikabarkan tewas gantung diri.

Adanya kabar tersebut, sontak keluarga merasa kaget. Karena anaknya harus meninggal dunia dengan tragis, nekad gantung diri. Kejadian tersebut, ia sadari karena semua itu kehedak Sang Pencipta. Selain itu, diakui Sobirin, anaknya pernah memiliki riwayat penyakit ODGJ pada usia 9 tahun.

” Mohon maaf dan izin agar jenazah anak saya jangan diautopsi, karena saya beserta keluarga sudah menerima kemaitian anak merupakan takdir dari Illahi dan pernah menderita penyakit ODGJ,” jelas Sobirin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here