ILustrasi

Laporan : Shandi

Cianjur. metropuncaknews.com – Ada apa dibalik pengeroyokan Tomi Hedrawan (33), wartawan Tabloid ‘News Nurani Rakyat’. Tomi diduga kuat dianiaya oknum pemilik perusahaan ayam petelor, di Kampung Cimalati, Desa Kanoman Kecamatan Cibeber, Cianjur, Jumat (15/3).

Saat diwawancarai awak media Tomi (korban) mengatakan, sebelumnya beredar kabar dari warga Kampung Cimalati, perihal adanya perusahaan ayam petelor di wilayah tersebut.

Nampaknya, warga setempat merasa terganggu dengan adanya perusahaan ayam petelor itu. Karena diduga perusahaan ayam petelor itu   telah mencemari lingkungan.

Untuk memastikan informasi tersebut, korban langsung turun kelapangan, untuk minta kejelasan dari warga Kampung Cimalati. Setelah mendapati keterangan dari warga, korban langsung menuju perusahaan yang dimaksud.

” Sesampainya di tempat perusahaan, saya langsung memotret sekaligus melakukan konfirmasi. Namun apa yang didapat justru saya mendapatkan penganiayaan dengan kasar menjambak pakaian saya, hingga robek dan mengakibatkan luka lecet di bagian dada. HP yang saya pegang pun dirampas langsung dari tangan, kemudian dilemparkannya,” ungkap Tomi pada awak media, Jumat sekira pukul 14:00 Wib.

Setelah mendapatkan perlakuan tak senonoh dari oknum perusahaan ayam petelor tersebut, Tomi pun segera bergegas pergi ke RSUD Sayang Cianjur untuk melakukan ‘visum’.

” Setelah diperlakukan seperti itu, saya  langsung ke RSUD Sayang Cianjur, untuk melakukan visum. Karena merasa dihalang-halangi saat bertugas dilapangan, saya mengadukan perkara tersebut ke pihak yang berwajib di Polres Cianjur,” ungkap korban. .

Menyikapi hal tersebut, Ketua PWI Kabupaten Cianjur, Mochammad Iksan menegaskan,  apapun bentuknya sebuah kekerasan sangat tidak dibenarkan. Karena tidak sesuai dengan UU No 40 Tahun 1999 Tentang Pers, Pasal 8 yang menyebutkan, dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.

” Demikian juga dalam Pasal 18, Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500. 000. 000, 00 (Lima ratus juta rupiah). Dan kita mendukung penegak hukum Polres Cianjur, untuk menindak lanjuti dugaan kasus tersebut,” tegasnya.

Polres Cianjur melalui Kanit Reskirim Unit III, Ipda Wandi Kuswandi mengatakan, pihaknya secepatnya akan melakukan lidik, serta akan menindak tegas oknum yang telah melakukan penganiayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here