Laporan : Nana Cakrana

PURWAKARTA, metropuncaknews.com – UPTD SMP Negeri 2 Pasawahan menggelar kegiatan Internal House Training (IHT) Pengembangan Perangkat Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2020-2021. Kegiatan tersebut digelar di Aula SMPN 2 Pasawahan, Rabu (19/8). Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tersebut diikuti oleh 50 orang guru dan tenaga kependidikan dari SMPN 2 Pasawahan.

Nampak hadir pada kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Purwakarta, H. Purwanto, M.Pd. Dalam arahannya kepada para guru dan tenaga kependidikan yang hadir di tempat itu, Purwanto menegaskan, guru harus mampu melakukan adaptasi dalam kondisi New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dalam masa pandemi Covid-19 ini.

“ Pemerintah menginginkan peserta didik sehat. Sekolah harus menjadi tempat yang paling menyenangkan untuk para siswa. Untuk mewujudkan itu, maka kerjasama  yang apik antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar adalah modal sosial yang tidak bisa dinafikan,” terang Purwanto.

Terlebih, sambung Purwanto, pada situasi darurat pandemi Covid-19 saat ini. Kreatifitas para guru harus lebih ditingkatkan lagi. Disadari, pembelajaran daring memiliki kelemahan-kelemahan. Sehingga, patut dicari cara untuk meminimalisir kelemahan pembelajaran tersebut.

Menurut Purwanto, pembelajaran online atau dalam jaringan (daring) bisa dikolaborasikan dengan pembelajaran luar jaringan (luring). Diantaranya, dengan mendatangi langsung rumah para peserta didik. Kemudian pastikan, apakah peserta didik melakukan kegiatan aplikatif keseharian atau tidak. Seperti membantu pekerjaan rumah orang tua, mengaji, ngepel, cuci piring, dan lain sebagainya.

“ Harap diingat, keutamaan pendidikan adalah kemuliaan akhlaq dan perilaku. Semua harus dibangun oleh sekolah. Para guru harus mampu mengedukasi, menggali, dan menangkap potensi anak. Dengan bekal tersebut, pada akhirnya pendidikan mampu memberikan solusi pemecahan masalah anak di ruang kelas dan di rumah,” tegasnya.

Berpikir Out of The Box (di luar kebiasaan, red), lanjut Purwanto, adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi dalam kondisi saat ini. Tanpa kecuali, hal tersebut juga berlaku untuk para guru. Bagaimanapun guru adalah pribadi yang bertugas di garis depan penyelenggaraan pendidikan.

Selanjutnya Purwanto mengatakan, guru dituntut untuk bisa berfikir alternatif. Untuk itu disarankan keluarlah dari kebiasaan (Out of The Box). Jangan terpaku pada dokumen kurikulum yang tertulis. Karena guru semua tahu, ada istilah  kurikulum tersembunyi (Hidden Curriculum) dalam dunia pendidikan.

“ Pahamilah itu. Dalam konteks itu, maka toilet yang ada di lingkungan sekolah harus menjadi bagian kurikulum. Begitupun halaman sekolah, saluran air, taman-taman kelas, dan penataan ruangan kelas. Semuanya harus menjadi bagian dari kurikulum yang diajarkan pada para siswa,” jelasnya.

Apalagi, masih kata Purwanto, jika dibudayakan sebagai bagian dari pembelajaran. Maka hal-hal kecil yang sebetulnya adalah bagian dari keseharian tersebut, akan menjadi kesadaran yang terpatri kuat di benak dan jiwa para peserta didik. Pada akhirnya, siswa akan menjadi pribadi yang mawas diri terhadap situasi lingkungannya.

Purwanto mengingatkan, dimasa-masa seperti sekarang, pembelajaran berbasis proyek itu dipandang cukup efektif. Berilah siswa tugas untuk membersihkan rumah yang mengkolaborasikan beberapa mata pelajaran. Seperti membuat makanan, membuat pupuk, melakukan pengembangbiakan tanaman melalui stek dan okulasi serta lainnya.

Setelah itu, bawa hasilnya ke sekolah untuk ditanam dan diceritakan dalam bentuk tulisan atau audio visual. “ Dengan model terintegrasi seperti itu, saya yakin proses pembelajaran serta relasi antara guru dan siswa menjadi jauh lebih menyenangkan,” pungkasnya.

Ditemui disela-sela kegiatannya, Kepala UPTD SMP Negeri 2 Pasawahan, Teguh, menjelaskan, tujuannya dilaksanakannya kegiatan ini untuk memberikan pedoman kepada para guru dan tenaga kependidikan dalam menghadapi sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19.

Teguh berharap, dari kegiatan ini para guru dapat berkolaborasi dan mengembangkan bahan ajar yang berbasis proyek, yang manfaatnya akan dirasakan langsung oleh peserta didik pada masa pandemi ini. Bahan ajar tersebut, selain nantinya tidak memberatkan orang tua siswa juga tidak memberatkan para peserta didik itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here