Bah Emi dengan kendaraan operasionalnya keliling kampung untuk memungut sampah

Liputan : Cece

Cianjur, metropuncaknews.com – Sejak 15 tahun yang silam hingga sekarang, Bah Emi (55) beserta anaknya Ujang Saepulloh (25), warga Kampung Cipadang Kalapa RT 03/04, Desa Cikaroya,  Kecamatan Warungkondang,  Cianjur, menjalani pekerjannya sebagai pemungut sampah. Bapak dan anak itu, tiap hari harus rela mengangkut sampah rumahan dari setiap rumah penduduk di Desa Cikaroya.

Pekerjaan memungut sampah tersebut sudah dilakoninya selama 15 tahun lebih. Namun Bah Emi nampaknya enjoy menekuni pekerjaannya itu. ” Saya senang dapat menjalani profesi ini, karena bisa mendapat uang iuran dari masyarakat dan uang itu saya berikan pada istri saya demi mempertahankan hidup,” kata Emi, saat dihubungi awak media, Senin (13/8).

Emi mengaku, sudah menjadi pemungut sampah sejak tahun 2007. Saat itu dia tergerak untuk secara sukarela memunguti sampah karena prihatin melihat sampah-sampah yang tak terurus di lingkungannya. Dia pun kemudian meminta izin pada Ketua RT setempat untuk memunguti sampah rumahan warga Desa Cikaroya.

” Kemudian saya dapat bantuan, dari Pemerintah Desa Cikaroya. Selain itu juga diberi Surat Keputusan (SK) untuk menjadi petugas kebersihan di wilayah perkampungan,” ujarnya.

Dari memungut sampah tersebut, dia mendapatkan uang iuran perbulannya sebesar Rp, 400 ribu. Uang tersebut terkumpul dari masing-masing rumah yang dia pungut sampahnya. Hasil dari iuran tersebut, dia bayarkan sebagian untuk membuang sampah ke pasar Warungkondang dengan angsuran Rp 250 sampai 300/bulannya.
Meski tidak banyak dari sisa angsuran ke tempat pembuangan, namun uang tersebut cukup untuk menghidupi keluarganya.

” Anak saya ada 4 dan sudah menikah satu. Kalau sekarang uang untuk biaya sehari-hari hanya sisa dari angsuran ke tempat pembuangan ke pasar perbulannya, kadang sempat nunggak sampai 450 ribu,” ungkapnya.

Ujang Saepuloh menambahkan, meski orang tua fisiknya sudah lemah termakan usia, namun sampai saat ini dia terus menarik Catornya keliling kampung untuk memungut sampah. Hanya dengan kondisi armada yang sudah tua dan bahkan remnya tidak berfungsi, bapak dan anak terus melakoni pekerjaannya sebagai petugas kebersihan alias tukang pungut sampah.

Meski kendaraan yang digunakan sangat memprihatinkan, tapi apa boleh buat, semuanya harus dijalani demi menyambung nyawa dan mempertahankan hidup keluarganya.

“ Jadi saat menjalakan tugas harus ekstra hati-hati, karena takut menabrak pengendara lain,” aku Ujang.

Bapak dan anak itu, sangat berharap, pemerintah lebih memperhatikan para pemungut sampah seperti dirinya. Terutama soal kesehatan dan armada pemungut sampah. ” Kalau sakit bisa berobat gratis, itu pun kalau bisa membantu, dan juga armada yang kurang layak pakai mohon bantuannya untuk diperbaiki,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here