Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Dibawah pimpinan Camat Cugenang Komariah S.IP M.AP, 16 koordinator guru ngaji sewilayah Kecamatan Cugenang, mengikuti video confrence (vicon) bersama Bupati Cianjur H. Herman Suherman. Kegiatan tersebut digelar di aula serbaguna kantor Kecamatan Cugenang, Rabu (01/09/2021).

Tidak hanya di Kecamatan Cugenang saja yang mengikutinya, tetapi vicon tersebut juga diikuti oleh seluruh kecamatan se Kabupaten Cianjur.

Hal itu dilakukan, lantaran dalam agenda vicon tersebut dilaksanakan pengukuhan koordinator Forum Komunikasi Guru Ngaji (FKGN) di masing-masing desa seKabupaten Cianjur.

Kepada wartawan usai mengikuti vicom tersebut, Camat Cugenang Komariah S.IP M.AP mengatakan, hal ini dilakukan untuk substansi 100 hari program kerja Bupati dan Wakil Bupati periode 2021-2026. Khususnya dalam mewujudkan visi misi Cianjur Mandiri, Maju Religius dan Berakhlakul karimah (Manjur).

” Ya, salah satunya dilakukan melalui adanya eksistensi guru ngaji di wilayah desa,” kata Komariah.

Pada hari ini, lanjutnya, telah dikukuhkan sebanyak 16 koordinator FKGN desa sewilayah Kecamatan Cugenang secara virtual. Sekaligus dengan pengukuhan guru ngaji seKabupaten Cianjur. Intinya kami berharap dan berpesan ini sebagai media atau sarana untuk mewujudkan visi misi Kabupaten Cianjur periode 2021-2026.

” Minimal namanya juga koordinator desa FKGN, memiliki database guru ngaji atau santrinya. Nah, lebih jauhnya lagi manfaat dari aktivitas tatap muka tersebut tidak ada lagi masyarakat yang buta huruf Al Quran,” ungkapnya.

Kalau punya database, bukan hanya jumlahnya saja, sambung Komariah, tetapi PADesnya juga harus jelas. Mungkin kalau seandainya ada sinergitas, program kegiatan dikaitkan dengan program yang lain. “ Misalnya untuk pemberdayaan UMKM dan lainnya nanti kita sinkronkan,” tambahnya.

Disinggung mengenai adanya fasilitas untuk pengajian atau guru ngaji, Camat Cugenang menjawab, sampai saat ini memang belum ada. Sampai saat ini baru insentif untuk guru ngaji saja.

” Yang ada saat ini baru satu RT satu guru ngaji yang diberi insentif. Tapi pada kenyataannya satu keRTan itu ada lebih dari satu guru ngaji,” terangnya.

Dia menyambungkan, mungkin karena keterbatasan anggaran sehingga dibatasi. Itu pun hanya pengajian-pengajian konfensional saja

” Kendati diberlakukan seperti itu, namun pendataan tetap dilakukan termasuk guru-guru ngaji yang ada di pondok pesantren, meskipun mereka sudah terhubung dengan Kemenag,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here