Ustadzah Dedeh Siti Marliah S. Ag,

Liputan : Sam AS

Cianjur, metropuncaknews.com – Secara sunnatullah yang berpuasa sesungguhnya tidak hanya diwajibkan pada orang mukmin saja. Tapi makhluk lainnya juga berpuasa. Seperti hewan unggas, ular dan tumbuh –tumbuhan. Diantaranya, Flamboyan, mahoni dan mahkluk lainnya, untuk mendapatkan kualitas dan  kelangsungan hidupnya.

Namun tentu saja cara puasanya jauh berbeda dengan berpuasanya manusia mukmin.  Seperti puasanya induk ayam mengerami telur selama belasan hari tanpa minum dan makan. Sehingga menetas menjadi makhluk baru yang disebut anak ayam.

Ular berpuasa setiap akan ganti kulit. Berdiam diri tanpa makan dan minum selama belasan hari yang kemudian merubah, sekujur tumbuhnya menjadi muda kembali dan membesar. Kemudian ulat berdiam diri selama belasan hari hingga menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu dan mampu terbang kemana yang dikehendakinya.

Sedangkan pohon flamboyan dan mahoni, berpuasa beberapa hari. Daunnya berguguran, rontok tanpa daun sehelai pun. Hingga berpuasa karena tidak bisa mengolah, memasak zat makanan yang diolah semata yang ada pada mulut daun.

Diantara sekian banyak, makhluk lain berpuasa, seperti hewan dapat kita ambil pelajaran dan hikmah agar puasa kita mencapai derajat taqwa.  Ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya dengan mengganti kulitnya secara berkala.

Wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Nama, wajah bentuk, makan, bergerak, tabiat dan sikap, sebelum dan sesudah berpuasa tetap sama tidak ada ubahnya.

Berbeda dengan ulat. Ulat termasuk hewan paling rakus. Karena hampir sepanjang waktu dihabiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan makan, ulat melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya.

Mulanya ulat mengasingkan diri dari rekannya. Sekujur tubuhnya dibungkus rapat menjadi kepompong. Hingga tak mungkin lagi melampiaskan nafsu makannya.

Setelah belasan hari berpuasa, maka ulat tersebut  keluar dari kepompong berubah menjadi seekor makhluk baru. Yaitu kupu-kupu  yang indah dan bisa terbang kemana yang diinginkannya.

Ambil hikmah pelajaran dari puasa ulat. Nama ulat setelah berpuasa  berubah menjadi kupu-kupu. Wajah ulat setelah berpuasa berubah indah dan mempesona. Setelah berpuasa berubah menjadi mengisap madu, bergerak setelah puasa berubah  menjadi terbang kemana yang disukainya.

Tabiat dan sifatnya,  berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Setelah berpuasa berubah menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga.

Maka dengan itu, diharapkan kepada seluruh mukmin dan mukminat dalam melakukan puasa Ramadhan sekarang ini mampu menghijrahkan diri agar semakin taqwa dan mampu menjadi  khairunnaas anfa’uhum linnaas.

” Sebaik-baiknya manusia ialah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya,” Ucap Ustadzah Dedeh Siti Marliah S. Ag, warga Jln Amalia Rubini Kampung Pataruman, Rt 01/11, Kelurahan Sayang,  Cianjur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here