Kepala Puskesmas Cilaku, mengembalikan uang koin yang dipakai untuk membayar biaya persalinan pada keluarga Yanto danmalah memberi bantuan pada Yanto.

Laporan : Sandi

Cianjur metropuncaknews.com – Setelah sebelumnya ramai diberitakan di media online, tentang warga yang membayar biaya persalinan dengan uang koin. Sejumlah awak media mendatangi rumah pasutri Riska (27) dan Yanto Kuswanto (30)  di Kampung Mekarsari RT 05/02, Desa Rahong Kecamatan Cilaku Kab Cianjur.

Kedatangannya itu tak lain untuk menggali informasi perihal pembayaran biaya persalinan dengan uang pecahan koin Rp. 1000,- sejumlah Rp. 500.000,-. Kemudian uang hasil menabung/celengan tersebut dibayarkan ke Puskesmas Cilaku, Jum’at (10/01) kemarin.

Diketahui pasutri yang baru melahirkan putra pertamanya itu, membayar biaya persalinan dengan uang koin hasil menabung selama sembilan bulan.

Menurut informasi, Yanto sehari-harinya bekerja di toko plastik di kawasan Cianjur Kota. Dalam satu bulannya hanya mendapat gaji sebesar  Rp. 900.000,-.

” Benar, suami saya hanya bekerja sebagai pelayan toko plastik di kawasan Kota Cianjur, dengan gaji Rp. 900.000,-/bulan, kalau dihitung perharinya Rp. 30.000,-. Sisa dari biaya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari biasanya dimasukkan ke dalam celengan,” kata Riska saat ditemui di rumahnya, Kamis (16/01).

Masih dikatakan Riska, saat mengetahui saya mau melahirkan, suami saya langsung memecahkan celengannya, kemudian memasukannya ke dalam kresek untuk biaya persalinan.

” Jumlah hasil celengannya, ada sekitar Rp. 500.000,- langsung dimasukkan ke dalam kresek dan dibawa ke Puskesmas. Padahal total biaya persalinan Rp. 1.400.000,-,” ujar Riska.

Melihat upaya Yanto yang mempersiapkan biaya persalinan istrinya dengan mengumpulkan/menabung uang recehan. Pihak Puskesmas akhirnya memberi keringanan kepada Riska dan bayi yang baru dilahirkannya.

” Uang koinnya dikembalikan lagi, dan saya pun diberikan santunan Rp. 200.000,- sama Kepala Puskesmas,” ujarnya.

Lebih jauhnya lagi, ternyata pasutri tersebut tinggal di rumah berukuran panjang 10 meter yang dibagi tiga, masing-masing mendapat tiga meter lebih. Bagian depan dipakai ibunya berjualan, kemudian tengah dan belakang keluarga Yanto dan adiknya.

Riska mengatakan, dulu rumah panggungnya hampir roboh. Memang sempat ada kabat mau dapat bantuan perbaikan rumah tidak layak huni, namun tak kunjung tiba.

” Ya daripada roboh, akhirnya kami pinjam ke “bang emok’, total pinjamannya Rp. 27.000.000,- untuk membangun rumah yang dibagi tiga meteran untuk adik dan ibu saya,” katanya.

Lanjutnya, hutang untuk membangun rumah pada bang emok, kini mempunyai empat kali tagihan dalam sebulan. Ada yang dibayar setiap hari Senin dan Kamis, lalu ada yang harus dibayar setiap dua minggu.

” Dalam satu bulan kami harus menyiapkan uang sejumlah Rp. 1.800.000,-, untuk membayar ke bank emok,” ungkap Riska.

Dari gaji yang hanya Rp.900.000,-, sementara yang harus di bayar Rp. 1.800.000,-, dua bulan gaji suami saya.

” Untuk menambah bayar ke bang emok, ibu saya yang sudah renta pun, terpaksa membuka warung untuk mencari penghasilan tambahan, karena hutangnya masih besar,” ungkapnya.

Riska pun mengaku, tak masuk ke dalam keluarga menerima PKH dan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), padahal dulu rumah panggungnya itu hampir roboh, dan ibunya pun sudah renta,

” Ya, kami tak pernah dapat bantuan PKH maupun BPNT, sekarang kami terlilit hutang sama bang emok bekas membangun rumah, dan kami sangat mengharapkan adanya bantuan, apalagi sekarang ada bayi,” pungkasnya.

Sementara Sekdes Rahong H Rudi Salam S.IP saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, sebelumnya itu adalah pasien istrinya. Kemudian dirujuknya ke Puskesmas Cilaku untuk melakukan persalinan.

” Jauh sebelumnya Yanto memang sudah menabung meskipun dengan uang recehan, untuk membayar biaya persalinan. Karena pihak Desa Rahong, sudah mensosialisasikan tentang suami siaga termasuk persiapan menghadapi istrinya yang akan melahirkan,” terangnya.

Lanjutnya, kebetulan Yanto ini berinisiatif mengumpulkan uang recehan untuk biaya persalinan. Sehingga pihak Puskesmas pun merasa takjub pada upaya yang dilakulan Yanto.

” Pada akhirnya pihak Puskesmas pun mengembalikan uang tersebut, bahkan pihak Puskesamas pun memberi bantuan pada Riska yang baru melahirkan putra pertamanya itu,” ujar Rudi.

Selanjutnya Rudi mengatakan, ini merupakan contoh buat warga lain. Apapun keadaannya suami harus siaga. Artinya, harus memiliki inisiatif. Termasuk menyiapkan biaya persalinan istrinya. Caranya dengan menabung. Tdak harus besar yang penting punya simpanan untuk biaya melahirkan.

” Karena pemerintah memprogramkan, kelahiran harus melalui bidan atau puskesmas, maka kami pun sering melakukan sosialisasi tentang suami siaga, contoh kecilnya yang dilakukan Yanto dalam menyiapkan kelahiran putra pertamanya,” jelas Rudi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here