Diskusi panel yang diselenggarakan BEM-KM UNsur di gedung KNPI Cianjur

Laporan : Cece

Cianjur, metropuncaknews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM-KM), menggelar acara diskusi panel kebangsaan untuk menangkal paham Komunisme dan radikalisme. Acara tersebut dilaksanakan di gedung KNPI Cianjur  dihadiri beberapa narasumber.

Diantaranya, Dandim 0608 Cianjur Letkol Hidayati ST,.MT, perwakilan Polres Cianjur, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik H. Dadan Ginanjar S.Ip,. M.Si, aktivis muda Ahyar Al-Rasyid dan Azhar Sukmawan. Beberapa mahasiswa universitas dan perguruan tinggi di Cianjur. Seperti dari UNPI STAI AL-AZHARY, UNSUR dan beberapa organisasi kepemudaan Cianjur, Senin (1/10).

Presiden Mahasiswa Panji Sakti Sukandi mengatakan, momentum ini mengingat hari G30S PKI menjadi satu problematika kebangsaan terhadap paham radikalisme dan komunisme. Pemahaman ini haruslah dipahami secara mendasar keberadaannya oleh kalangan mahasiswa. Mengingat 30 % mahasiswa Jawa Barat terlibat dalam pemahaman tersebut. Maka dengan begitu acara dialog kebangsaan ini digelar.

” Bangsa ini harus bersatu memerangi paham komunisme dan radikalisme, khawatir akan kegaduhan bangsa dengan keterlibatan mahasiswa harus dengan tegas memerangi paham tersebut,” ujarnya.
Dandim 0608 Letkol CZI Hidayati, ST,MT. menyebutkan, paham radikalisme bisa menyebar dengan gaya baru di era milenial ini. Tentu mahasiswa dan pemuda harus bersatu dengan TNI untuk memerangi paham-paham yang dapat membahayakan terhadap keamanan dan kegaduhan Negara. Adanya sejarah kebiadaban G30S PKI pada tahun 1965 silam, Telah menjadi catatan kita supaya tidak terjadi lagi di Indonesia pada masa depan.

Sementara dari Polres Cianjur Kompol Dr Pardiyato, SH,.MH, MKn mengatakan, tujuan/motif radikalisme salah satunya ingin mengganti idiologi bangsa (Pancasila). Pardiyato juga menjelaskan peta kerawanan persembunyian radikalisme/terorisme di Kab.Cianjur.

Kepada mahasiswa dan pemuda, Pardiyato juga mengatakan, agar mencegah paham radikalisme di Indonesia. Selanjutnya Pardiyato mengimbau pada para peserta diskusi, untuk segera melapor ke pihak Polisi maupun TNI, jika adanya pergerakan yang mencurigakan, baik dari yang diduga PKI mau pun yang lainnya.

Ahyar Al-Rasyid aktivis Mahasiswa/Mantum HMI Badko Jabar, berpendapat, berkaitan dengan paham komunisme dan radikalisme, Pancasila adalah penengah antar paham radikal kiri dan kanan. Ahyar menilai kondisi hari ini Pancasila sebagai kontrak sosial, menjadi penengah sebagai makhluk bernegara di Indonesia.

Ahyar juga menilai, komunis juga dilihat dari apa dulu, karena era milenial hari ini paham komunis/PKI sudah tidak laku lagi. Namun juga tidak menutup kemungkinan kebangkitan PKI ini harus juga di wapadai. “ Kalau memng ada kita gebuk aja bareng-bareng sesuai apa yang dikatakan Presiden Jokowi,” ujarnya menegaskan.

Azhar Sukmawan (Aktivis Muda GMNI), dia adalah alumni Unsur Fakultas Teknik. Azhar mengatakan, berbicara masalah Komunisme/PKI di indonesia banyak versi berdasarkan pemahaman masing-masing. Karena kebenaran sejarah PKI ditulis oleh siapa yang berkuasa.
Azhar menilai, jika memang paham tersebut dapat membahayakan idiologi negara yaitu pabcasila, maka kita harus juga menjadi penengah untuk menstabilkan kondisi negara. “ Dan jalan tengahnya adalah Pancasila,” terangnya.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here