Laporan : Sandi/Dani.

Cianjur, metropuncaknews.com – Adalah Badranudin (60), seorang pria paruh baya yang tinggal di gubuk reyod berukuran 6×4 meter, bersama anak dan istrinya, di Kampung Maleber RT 03 RW 12, Cipanas, Cianjur.

Gubuk yang sangat tidak layak huni itu, berdindingkan bilik dan beratap kayu lapuk, sehingga wajar saja, jika gentingnya pun pada bolong dan bocor, dan tak mampu menahan hujan.

Ya, 15 tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun Badranudin sadar, dengan menjadi kuli tani, yang upahnya hanya Rp.20.000,- sampai 30.000,-/perhari. Jangankan membangun rumah, untuk biaya hidup dan bekal anaknya saja, yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu tidak cukup.

“Untuk penghasilan menjadi kuli tani yang hanya Rp. 20.000,- hingga 30.000,-/sehari, jangankan membangun rumah, untuk  memperbaikinya saja sudah kejepit sama biaya makan sehari-hari dan bekal sekolah anak saya,” ungkapnya sambil tertunduk sedih.

Badranudin mengaku malu, ketika anak semata wayangnya yang menginjak usia dewasa, mengajak teman sebayanya bermain ke rumahnya itu. Namun ia tidak bisa berbuat banyak selain mengusap dada dan meneteskan air mata.

“Suka sedih dan malu, kalau ada teman-teman anak saya, yang datang ke rumah. Selain jelek (tidak layak) tempat tinggal kami sangat sempit,” kata dia sembari menyeka air mata.

Badranudin juga menyampaikan, kalau hujan turun, seisi rumah basah semua, karena gentingnya sudah pada bolong jadi bocor, dan akhirnya kami pun terpaksa mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat.

“Dengan keadaan seperti itu, bukannya tidak malu nginap di rumah tetangga atau kerabat, tapi mau bagaimana lagi,” kata ayah satu orang anak dengan wajah tertunduk dan meneteskan air mata.

Meski warga (tetangga/kerabat) dan ketua RT, pernah mengusulkan permohonan bantuan kepada pemerintah agar mengucurkan bantuan rutilahu atau BSPS untuk keluarga Badranudin. Bantuan itu hingga kini tak kunjung terwujud.

Kendati demikian, Badranudin tetap bersyukur masih ada yang tetangga atau kerabat yang masih peduli kepadanya.

Padahal sejatinya, Badranudin pun menginginkan kehidupan yang layak, artinya memiliki rumah seperti pada umumnya. Namun Alloh berkehendak lain untuk keluarganya.

“Kalau boleh jujur, memang saya juga menginginkan kehidupan yang layak, rumah yang layak, dan perekonomian pun bisa stabil supaya hidup normal, tapi ya mau bagaimana lagi,” ungkapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, sejumlah awak media masih mencari keterangan dari pemerintah setempat, pasalnya sudah sekian lama hidup miskin, dan menurut kabar pun keluarga tersebut tidak mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan lainnya.

Padahal jika mengacu pada bunyi pasal UUD 1945, seharusnya tidak ada lagi rakyat di atas bumi pertiwi ini yang masih dalam keadaan taraf hidup tidak layak, atau berada pada garis kemiskinan. Dan kalaupun masih ada, maka kewajiban negara melalui pemerintah untuk bisa memberinya tempat yang layak dan membuatnya sejahtera.

Dalam Undang-undang pasal 34 ayat 1, 2 dan 3 tertera: 
1. Fakir misk8n dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan pelayanan umum yang layak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here