Aimar digendong ayahnya

Laporan : Cece

Cianjur, metropuncaknews.com – Malang nian nasib Aimar Qolbi, balita berusia 3 tahun anak dari pasangan lyan Kustian(46) dan Ida Rosida(37) warga Kampung Mareleng RT 05/05,Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi sejak lahir memiliki kelamin ganda.

Meski anak tersebut mempunyai kelamin ganda, namun orang tua Aimar mempunyai keyakinan, kelak anak ketiganya itu adalah seorang lelaki. Sehingga saat ini Aimar mempunyai karakter seperti laki-laki.
“ Tanggal 20 Agustus kemarin saya ke Bandung, diperiksa kromosom biayanya lumayan besar Rp 1,8 juta. Kini saya masih ada utang karena uangnya hasil nabung selama ini juga tak cukup,” ujar  ayah Aimar saat ditemui dirumahnya, Jumat (6/9).

Iyan mengatakan, tes kromosom merupakan saran dari dokter untuk mengetahui apakah Aimar ini perempuan atau laki-laki. Kini dirinya kebingungan setelah memeriksakan Aimar ke dokter dan rumah sakit. Pasalnya, tak memiliki uang untuk biaya pengobatan selanjutnya. Karena Iyan  sehari-harinya hanya berdagang gorengan. Sedagkan biaya untuk pengobatan Aimar cukup mahal yang tentunya tak mungkin terbayar oleh penghasilan Iyan sebagai pedagang gorengan.

“ Saya juga bingung selama ini saya arahkan main ke anak laki-laki, tapi kata dokter harus hati-hati, saya jadi bingung juga,” kata Iyan.

Selanjutnya Iyan mengatakan, tes kromosom tersebut hasilnya sebulan. Tes tersebut, masih kata Iyan, bisa saja hasilnya seimbang. Jika seimbang maka harus disuntik hormon untuk melihat dominasinya.

“ Jelas butuh kehati-hatian jika nanti saya arahkan laki-laki takutnya tumbuhnya perempuan begitu juga sebaliknya,” jelasnya.

Iyan mengatakan, anaknya tersebut lahir di Jakarta saat ia merantau. Pernah dibawa ke Puskesmas Cakung, dirujuk ke RS Persahabatan. Saat itu bayinya lahir normal dikandung selama sembilan bulan.

“ Sejak lahir dokterpun sudah menyarankan untuk dites kromosom dan sebagainya. Namun biayanya besar saya mengumpulkan uang dulu dan mendaftarkan ke BPJS, namun ternyata BPJS tak mengcover semua, seperti tes kromosom,” katanya.

Iyan khawatir anaknya semakin besar dan semakin minder dengan keadaan dirinya. Iyan berharap ada pihak yang rela membantu persiapan operasi setelah tes kromosom dan lainnya.

“ Saya dan istri sudah lari kesana kemari istilahnya, ada petunjuk yayasan di Cianjur, Bandung, dan tempat lainnya selalu saya kunjungi kalau ada yang bisa membantu anak saya, tapi sampai saat ini saya juga masih bingung jika operasinya harus ada biaya nanti,” paparnya.

Ida Rosida Ibu Aimar mengatakan, anaknya tersebut merupakan putera ketiga dari tiga bersaudara. Dua saudaranya laki-laki.

“ Kemarin juga gemetar dengar biaya tes kromosom yang begitu besar, apalagi biaya operasi,” ujar Ida.

Sambil menangis, Ida juga sering mendengar anaknya mengeluh. Karena ia sudah merasa beda dengan anak seusianya.

“ Kalau lagi main, pengen pipis suka pulang ke rumah malu kalau pipis bareng temannya,” kata Ida.

Menurut Ida,  warga lainnya juga sudah mengetahui anaknya memiliki dua kelamin.

“ Istilah medisnya ambigu atau apa. Kalau ke dokter juga harus hati-hati sebelum dioperasi untuk menentukan jenis kelamin, saya turuti, tapi sekarang bingung biayanya juga besar,” tuturnya dengan wajah sendu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here