Keadaan di lingkungan PT. S

Laporan : Isan/Andri/Ade Hidayat

Cianjur, metropuncaknews.com – PT.S yang bergerak dibidang pembuatan bahan penjernih air ini, diduga kuat membuang limbahnya ke Sungai Cisokan. Perusahaan yang satu ini seakan tutup mata dan telingga terhadap program pemerintah. Salah satunya program yang kini tengah gencar-gencarnya dilakukan pihak pemerintah. Yaitu Program Citarum Harum yang pengawasannya dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum.

Ironisnya, hal tersebut telah terjadi sejak tahun 2018. Namun sepertinya tak terendus pihak-pihak yang berwenang.  Atau masih ada oknum-oknum yang masih bisa dijejali rupiah, hingga tak bisa berbuat apa-apa terhadap PT. S.

Padahal PT.S ini berlokasi di Kp. Legok Terong Desa Hegarmanah Kecamatan Sukaluyu Cianjur. Bahkan lokasinya pun hanya ratusan meter dari Kantor  Desa Hegarmanah. Ironis memang. Tapi itu kenyataannya. PT. S dengan seenaknya membuang limbahnya ke Sungai Cisokan.

Sedangkan Sungai Cisokan itu bermuara ke Waduk Cirata. Dan di Waduk Cirata ini, ratusan bahkan mungkin ribuan petani ikan, mengadu nasibnya dengan mendiri kolam terapung. Bahkan untuk membantu para petani ikan ini, pihak   Badan Penanggulangan Waduk Cirata (BPWC) kini tengah melakukan pembenahan. Hal itu dilakukan untuk membantu para petani ikan juga.

Karena itu, amat disesalkan jika PT. S dibiarkan menjalan operasinya. Karena jelas, apa yang dilakukan PT. S ini, selain merusak lingkungan juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam Pengawasan

Perusahaan yang satu ini nampaknya memang bandel. Buktinya, meski PT. S ini dalam pengawasan pihak Dinas Lingkungan Hidup, namun tetap saja melakukan operasinya dan membuang limbahnya ke Sungai Cisokan.

Bahkan, konon katanya, prusahaan ini sudah beberapa kali didatangi Dinas Lingkungan Hidup atas laporan warga. Karena penataan penyimpanan limbah yang tidak teratur. Selain itu juga faktor utama pabrik ini kerap membuang cairan kimia secara langsung ke Sungai Cisokan.

Menurut keterangan warga sekitar, MP, perusahaan ini selain memproduksi bahan penjernih air juga sebagai gudang penyimpanan slade limbah yang diduga limbah B3.

Beberapa kali awak media menyambangi pabrik tersebut, namun tidak pernah bertemu dengan pemilik perusahaan. Para awak media hanya bertemu dengan pekerjanya saja.

Salah seorang karyawan PT. S yang bernama Uti saat diwawancarai mengatakan, Ini hanya gudang transit limbah dari pabrik pabrik penghasil limbah. Kemudian ada yang menariknya lagi. “ Di dalam ngak ada produksi, kilahnya.

Hasil penulusuran awak media, di dalam pabrik terdapat banyak limbah yang penataannya tidak teratur. Selain itu, ditemukan bahan kimia penjernih air Poli Alumunium Clorida (PAC).

Salah seorang warga sekitar pabrik, memberi petunjuk aliran air kimia yang dibuang ke sungai Cisokan. Saat itu pula, para pemburu berita  menelusuri tempat yang ditunjukan warga. Setelah dilihat, ternyata benar adanya.  PT. S ini memang membuang cairan kimia ke sungai.

Kepala Desa Hegarmanah, Toni Sutarwan saat dikonfirmasi, Jumat (26/04)  mengatakan, pihaknya sedang menunggu hasil uji apakah sesuai baku mutu apa tidak.

“ Makanya saya lagi nunggu keputusan dari Dinas Lingkungam Hidup, perijinannya dulu pembuatan bahan penjernih air, yaitu tawas, lalu saya tandatangani karena ada ijin dari warga,” katanya.

Disinggung mengenai pembuangan cairan kimia ke sungai, Toni mengatakan, kata sih tidak berbahaya. Tapi yang lebih tahu berbahaya apa tidaknya adalah DLH. “ Karena itu, saya lagi nunggu hasil keputusan DLH,” ungkapnya singkat, karena Toni ngaku hendak mengikuti rapat.

Di hari yang sama, Dinas Lingkungan Hidup Kab Cianjur yang diwakili Kasi Penegakan Hukum, Tedi Kusnandar, SH. MM mengatakan, mengenai PT. S ini memang benar ada penyimpanan limbah B3.  Untuk itu, pihaknya sudah merekomendasi ke Satpol PP agar melakukan penutupan. Selanjutnya pihak Sat Pol PP pun sudah melakukan penyegelan terhadap PT. S ini.

“ Sebelumnya kami sudah beberapa kali ke sana, bahkan pihak kecamatan, Polsek dan Koramil, juga sudah kesana, dan kami lakukan penelusuran sesuai laporan warga dan memang benar adanya hal tersebut maka kami merekomendasi agar dilakukan penutupan oleh Sat Pol PP,” jelasnya.

Tedi juga mengatakan, kalau dalam pengawasan masih terus melakukan pembuangan seperti itu, artinya pabrik tersebut bandel, tentu perlu ketegasan agar tidak melakukan proses dumping lagi.

“ Karena jelas, dalam pasal 104 UU PPLH menyebutkan, setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin, sebagaimana dimagsudkan pada pasal 60, dipidana paling lama tiga tahun dan denda 3 miliyar,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here